Kepala Resos Sunan Kuning Setuju Pernyataan Wali Kota, Tutup Lokalisasi Harus dengan Solusi

“Itu benar yang dikatakan Pak Wali. Menutup Sunan Kuning harus sekaligus memberi solusi. Kemana para penghuni kompleks setelah tidak di sini. Jangan sampai malah pindah tempat atau berkeliaran di jalan-jalan,” kata Suwandi.Wacana penutupan Sunan Kuning mencuat setelah Kementerian Sosial mengeluarkan kebijakan bahwa Indonesia harus bebas lokalisasi prostitusi pada 2019. Kebijakan itu dilakukan dengan mendorong seluruh stakeholder di daerah untuk dapat aktif terlibat mendukung target tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, tercatat 43 lokalisasi diharapkan bisa tutup selambat-lambatnya di 2019. Salah satunya adalah Resosialisasi Argorejo di Kota Semarang atau yang biasa dikenal dengan sebutan Lokalisasi Sunan Kuning.

“Kalau sekadar menutup mudah, tapi dampaknya harus dipikirkan juga. Ini berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, ada yang punya anak, punya keluarga. Mereka butuh makan,” tutur Suwandi.

Seperti diketahui, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengungkapkan, pihaknya tidak ingin penutupan lokalisasi hanya menjadi sebuah ajang seremonial saja.

Menurut Hendi, panggilan akrab wali kota, tidak dapat dipungkiri bila dalam upaya penutupan lokalisasi tersebut banyak aspek yang dipertimbangkan dan harus ditangani secara komprehensif.

“Jika berkaca pada kebijakan Kementrian Sosial bahwa lokalisasi sudah harus dihapus dari Indonesia di 2019, maka Kota Semarang juga harus mengikutinya. Namun penutupan itu jangan cuma sebagai seremoni saja, yang kemudian setelahnya para pelaku prostitusi justru berpotensi melakukan aktivitas serupa ditempat-tempat lain,” tegas Hendi.

“Sangat tidak elok memang jika dalam sebuah kota ada aktivitas prostitusi di dalamnya. Tetapi kita ini tidak bisa serta merta menutup, karena di sana banyak persoalan ekonomi,” tutur Hendi, saat melakukan diskusi terkait rencana tindak lanjut Resos Argorejo di Hotel Grasia, Semarang, belum lama ini.

9

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan