Nginguk Githok, Pagelaran Seni Budaya dengan Latar Kebun Tembakau

SEMARANG (Asatu.id) – Tahun ini, helatan sedekah bumi di Desa Sekar Arum, Sumber, Rembang untuk pertama kalinya dikemas dengan nuansa yang berbeda oleh sekumpulan remaja kampung yang tergabung dalam SKRM Squad.

Para pemuda pemudi kampung ini bahu membahu dengan perangkat desa dan didukung oleh Kolektif Hysteria, sebuah kelompok seniman yang bermarkas di Semarang tengah berupaya untuk memaknai ulang sedekah bumi di desa mereka.

Helatan yang bertajuk Nginguk Githok ini sedianya jatuh pada Kamis Pahing, 26 Juli 2018 dan menjadi lebih panjang rangkaian acaranya saat remaja mengusulkan untuk menambah durasi waktunya mulai tanggal 21 Juli.

Berbagai kegiatan workshop yang dilaksanakan dengan mendatangkan para seniman dari Kota Semarang dan Yogyakarta memberikan kesan yang berbeda pada masyarakat desa.

Nginguk Githok atau melihat tengkuk sendiri dimaknai sebagai upaya refleksi atau napak tilas dalam kegiatan sedekah bumi di Sekararum baru-baru ini.

Ketua panitia kampung, Achdiat Galih menyatakan pada awak media, event kali ini berupaya memaknai ulang sedekah bumi yang hanya terjebak pada adat istiadat saja.

“Bersama rekan-rekan dari Hysteria kami menggali sejarah cikal bakal desa, situs-situs keramat, hingga aktivitas yang menurut kami biasa saja menjadi luar biasa,” ujarnya, baru-baru ini.

Kerja sama itu menyulap misalnya Duwetan, tempat yang ditandai dengan pohon duwet atau ara di salah satu sisi kampung menjadi lebih artistik dengan sentuhan lighting dengan latar kebun tembakau.

Salah satu warga Desa Sekar Arum, Tejo Susanto melihat sebelumnya Duwetan dikenal angker dan gersang, namun berkat sentuhan pemuda menjadi lebih artistik.

“Kami menggunakan setting alam sebagai latar peristiwa kebudayaan, materialnya sudah bagus tinggal memberikan sentuhan instalasi dan lighting saja,” ujar Oktav Bagus mewakili Kolektif Hysteria.

Selain Hysteria nama-nama lain yang terlibat dalam sedekah bumi ini ada Dina Prasetyawan, Andi Meinl feat Openk dan Sueb, SKRM Dancer, Aziz Wisanggeni, Denta Arisman, Riska Farasonalia, Wayang Gaga, Henny Setyaningrum, dan Bambu Wukir.

Para partisipan meramaikan dengan membuat instalasi, mengisi workshop dan juga mengisi pentas. Selain campur tangan dari berbagai seniman dari luar, sedekah bumi ini juga terkesan dengan adannya arak-arakan yang mengular panjang membelah jalan setapak dengan pemandangan hutan jati kampung.

Kepala Desa Sekararum, Triyono Andi Asmoro mengapresiasi kerja kolaboratif ini. “Setidaknya ini memberikan alternatif lain untuk memaknai sedekah bumi tidak melulu hingar bingar dangdut dan aneka kemewahan lainnya,” katanya.

Ia berharap apa yang dirintis di Desa Sekar Arum bisa menjadi virus di kampung-kampung sekitar untuk mencoba membaca lebih kritis fenomena sedekah bumi. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *