Hati-hati Operasionalkan BRT Berbahan Bakar Gas

SEMARANG (Asatu.id) – Pengamat transportasi Unika Djoko Setijowarno mengatakan, operasional Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang yang menggunakan bahan bakar gas harus diperhatikan. Hal itu mengingat perawatannya berbeda dengan bus yang menggunakan bahar bakar minyak.

“Ada kemungkinan tabung gas bisa meledak sewaktu-waktu, jadi harus diperhatikan dengan serius perawatannya,” katanya, Minggu (29/7).

Djoko mengimbau pegawai bengkel atau kru kendaraan dan pengemudi harus melakukan diklat terlebih dahulu untuk memahami kendaraan berbahan gas. Dengan pengetahuan itu diharapkan bisa menjamin keamanan, baik pengemudi, kru dan penumpang, serta pengendara lainnya.

“Harus ada pelatihan terlebih dahulu, bagaimana cara memperbaiki dan merawat bus bahan bakar gas, karena itu kan sesuatu hal yang baru,” ungkapnya.

Sebelumnya, Walikota Semarang Hendrar Prihadi mengungkapkan pemakaian bahan bakar gas untuk Bus Rapid Transit (BRT) lebih menguntungkan, karena memakan biaya operasional yang lebih efisien.

“Jika menggunakan bahan bakar solar biaya yang dikeluarkan berkisar Rp 5.150 per liter, sedangkan jika menggunakan gas per liternya hanya Rp 4.500 untuk jarak 2,5 km untuk bus besar, dan 3,5 km pada bus kecil,” ungkapnya.

Sementara jumlah armada bus BRT yang menggunakan bahan bakar gas direncanakan berjumlah 72 armada, meliputi koridor 1,5,6,7, dan yang menuju ke Bandara Internasional Ahmad Yani.

“Pemasangan alat ditargetkan seselsai pada tanggal 31 Desember 2018, untuk suplai gas ke depan akan dicukupi oleh SPBG Kaligawe,” imbuhnya. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *