Kapolda Akui Polisi Kesulitan Ubah Ideologi Napi Teroris

Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono (Asatu.id/Doc)

SEMARANG (Asatu.id) – Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono mengakui, polisi kesulitan mengubah ideologi para narapidana teroris (napiter) agar menyadari kesalahannya dan kembali kepada ajaran agama yang benar. Bukti dari adanya kesulitan itu, menurut Kapolda, di antara  pelaku terorisme yang berhasil ditangkap, mereka sebelumnya pernah dipenjara dan mengikuti program deradikalisasi, namun tidak berubah ideologinya.

“Mereka sudah dipenjara dan mengikuti program deradikalisasi. Tetapi setelah kembali ke masyarakat mereka bertemu dengan teman-temannya, kembali kepada ajaran semula. Kami serahkan kepada para ulama dan kiai untuk membina mereka agar menjalankan ajaran agama Islam yang kafah, Islam yang damai dan Islam rahmatan lil alamin,” kata Kapolda.

Kalpolda menyampaikan hal itu ketika menjadi pembicara di depan para ulama dan kiai se-Jateng yang mengikuti Halaqah Ulama Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Hotel Syariah Jalan Adisucipto Solo, baru-baru ini. Selain Kapolda, menjadi pembicara pada kesempatan itu Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto.

Menurut Kapolda, Media Sosial (Medsos) hingga saat ini menjadi alat atau media utama untuk propaganda dan merekrut kader-kader pelaku teror.

“Mengerikan sekali ancaman agar membunuh, melukai dan membuat orang menjadi takut,” kata Kapolda.

Di akhir halaqah, Ketua Umum MUI Kota Semarang KH Erfan Soebahar membacakan lima pernyataan sikap sebagai rekomendasi untuk mencegah meluasnya gerakan radikalisme-terorisme di Jawa Tengah.

Tim perumus terdiri Prof Dr H Nashruddin Baidan, Prof Dr H Erfan Soebahar MAg, Dr KH Khariri Sofa MAg dan Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi. (bud)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *