Mahasiswa Unnes Tampilkan Berbagai Budaya Negara di Dunia

Semarang (Asatu.id) – Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Unnes menggelar acara Cross Cultural Understanding (CCU) Exhbition pada Sabtu, (7/7). Acara tersebut merupakan puncak penilaian mata kuliah CCU, dengan mengusung tema Harmonious Spectrum.

Menurut Indrawati Dosen Pengampu mata kuliah tersebut, CCU tidak dapat dihindari oleh mahasiswanya. “Mata kuliah ini mencakup dua hal. Pertama, ilmu tentang konsep teori, body language, tentang perspektif memandang dunia. Kedua adalah ilmu tentang understand your culture. Kedua hal ini tidak bisa kita hindari,” kata Indrawati.

Diangkatnya tema Harmonious Spectrum ini merupakan sebuah gambaran bahwa di dunia ini banyak negara, namun tetap dalam satu dunia. Ketua Panitia Acara, Alifia Firda Aziza menjelaskan, tema tersebut selain bermanfaat untuk Jurusan sendiri, juga bermanfaat untuk semua orang. Hal itu karena budaya tidak pernah lepas dari kehidupan manusia.

Salah satu apresiasi atas hal tersebut, budaya dari berbagai negara di dunia ditampilkan dalam acara ini. “Performance masing-masing rombel berbeda-beda. Ada yang menampilkan budaya Indonesia adat mantu, tari khas Perancis, flash mob Thailand, cosplay Jepang hingga lagu-lagu khas Korea,” jelas Alifia.

Tidak hanya itu, makanan khas berbagai negara juga disuguhkan dalam acara tersebut. “Kita juga menyuguhkan makanan khas berbagai negara seperti crossoan khas Prancis, dorayaki khas Jepang, lapis khas Indonesia dan teoppoki khas Korea. Itu semua free,” jelas Alifia.

Acara berlangsung sangat meriah. Para penampil maupun pengunjung mengaku senang dengan acara tersebut. “Acaranya seru, meskipun waktu, tenaga dan biaya banyak dikeluarkan untuk acara ini. Tapi saya senang, karena kita bisa tahu tradisi budaya negara-negara lain dari hasil latihan kami satu minggu ini,” kata Fransiska penampil budaya Thailand.

Atas terselenggaranya acara itu, Indrawati berharap mahasiswanya dapat mencintai budaya. “Saya berharap mahasiswa saya dapat menjadi milik dunia, menjadi cultural relative face, orang yang tidak menganggap budaya sendiri paling bagus atau primordialisme,” tegas Indrawati saat ditemui Asatu.id.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *