Kupatan Batang: Perjuangan Hak Atas Lingkungan Hidup

SEMARANG (Asatu.id) – Salah satu tokoh masyarakat Dukuh Roban Timur, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang Dul Hakim mengatakan pembangunan mega proyek PLTU batu bara dinilai sangat meresahkan dan menjarah kesejahteraan masyarakat Dukuh Roban Timur yang mayoritas adalah nelayan.

Hal ini dikatakannya saat menggelar diskusi ringan bersama para aktivis lingkungan dalam kegiatan tradisi budaya bertajuk “Kupatan Batang” bertempat di TPI Roban Timur, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, beberapa hari setelah hari Raya Idul Fitri 1439 H, Selasa (19/6).

Dul Hakim mengungkapkan warga Dukuh Roban Timur banyak mengalami kerugian dengan adanya pembangunan PLTU, pasalnya pembangunan yang telah merambah area perairan laut Batang telah memakan sebagian luas area tangkap nelayan.

Terlebih adanya polusi, limbah, buangan air panas, dan air laut beserta ikan-ikannya yang turut tersedot dalam proses produksi listrik telah merusak ekosistem.

“Area tangkap semakin sempit, ikan-ikan semakin menjauh,nelayan juga harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan, otomatis kebutuhan solar meningkat sedangkan hasil tangkapan semakin sedikit dan penghasilan berkurang,” ujarnya

Dul Hakim menambahkan limbah lumpur yang dihasilkan dari proses pengerukan tidak ditempatkan di penampungan khusus, tetapi dibuang ke laut. Hal itu dapat merusak alat tangkap ikan karena tersangkut atau tertutup lumpur buangan.

“Jaring-jaring juga sering rusak karena tersangkut atau tertutup lumpur buangan. Padahal PLTU mempunyai dana yang besar, tetapi kenapa tidak bisa membuat penampungan lumpur. Justru lumpurnya dibuang ke laut”, pungkasnya.

Meskipun berbagai cara telah dilakukan, namun belum mendapatkan respon yang baik dari pihak PLTU sehingga masih jauh dari yang diharapkan.

Kendati demikian, dirinya bersama masyarakat dan para aktivis akan tetap konsisten menolak pembangunan PLTU untuk memperjuangkan hak atas lingkungan hidup tempat mereka tinggal.

27

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan