Aksi Damai Mahasiswa Unnes Berakhir Ricuh

SEMARANG (Asatu.id) – Aksi damai hari keempat yang dilakukan mahasiswa Unnes yang menolak diberlakukannya uang pangkal berakhir ricuh, Kamis (7/6).

Aksi mahasiswa dimulai sejak pagi hari pukul 09.00 WIB, mahasiswa melakukan aksi damai didepan rektorat, dengan aksi bertilawah bersama menunggu rektor Unnes keluar menemui massa aksi. Hingga pukul 16.30 rektor Unnes belum keluar menemui massa aksi, mahasiswa tetap berada direktorat menunggu rektor.

Pukul 17.00 pihak rektorat menempatkan dua unit mobil, di pintu bawah rektorat mobil plat merah dan pintu atas rektorat mobil plat hitam. Seketika mahasiswa langsung merespon dengan menghadang mobil dan meminta rektor untuk menemui mahasiswa.

Namun, rektor yang enggan menemui mahasiswa mengerahkan petugas keamanan untuk membubarkan mahasiswa yang berada didepan dua unit mobil. Aksi dorong-dorongan antara mahasiswa dan petugas keamanan pun terjadi.

”Mobil terus melaju meski diadang para mahasiswa, hingga ada beberapa rekan kami yang terluka. Ini sungguh keterlaluan dan cara membubarkan mahasiswa dengan kekerasan, tidak kami duga sama sekali,” kata Iqbal salah satu aktivis mahasiswa.

Ia menambahkan, apa yang dilakukan rektor merupakan tindakan yang sangat keterlaluan.

“Massa dan petugas keamanan saling kuat mempertahankan diri dan banyak petugas keamanan, staff rektor, dan pejabat kampus lainnya, melakukan tindakan kekerasan kepada mahasiswa. Ini merupakan tindakan yang keterlaluan, rektor meninggalkan massa sebelum menemui kami,” tambahnya.

Sementara, Rektor Unnes, Prof Dr Fathur Rokhman MHum mengimbau mahasiswa yang menolak pemberlakuan uang pangkal untuk tidak memaksakan kehendak.

“Kami menghargai sikap sejumlah mahasiswa yang tidak sepakat dengan kebijakannya. Namun, ketidaksepakatan itu harus disampaikan dengan santun, saling menghormati, dan tidak memaksa,” Himbauan itu disampaikan Prof Fathur setelah terjadi insiden di depan Rektorat melalui pesan berantai.

Ia menambahkan, cara yang dilakukan mahasiswa dalam menyampaikan pendapat tidak akademisi.

“Beberapa mahasiswa bahkan menggedor-gedor mobil. Oleh karena itu, mobil yang tetap melaju dengan pelan. Karena cara yang dilakukan mahasiswa dirasa tidak akademis bahkan cenderung memaksakan kehendak,” tambahnya melalui tulisan yang disebarkan dalam pesan berantai tersebut. (is)

50

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan