Harga Sembako di Semarang Stabil

SEMARANG (Asatu.id) – Tidak dapat dipungkiri bila bulan Ramadan, khususnya mendekati Lebaran selalu diidentikan dengan kenaikan harga-harga di pasaran pada berbagai kota di Indonesia.

Tak terkecuali di Kota Semarang yang merupakan ibu kota Provinsi Jawa Tengah yang selalu mencatatkan laju inflasi yang tinggi menjelang Idul Fitri.

Bahkan saat krisis moneter tahun 1998-1999 yang mana daya beli masyrakat menurun drastis, inflasi pun tetap terjadi seperti menjadi sebuah anomali.

Namun fenomena inflasi karena meningkatnya harga-harga di pasaran saat bulan Ramadhan ini berhasil dipatahkan oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.

Badan Pusat Statistik mencatat, tingkat inflasi di Kota Semarang pada bulan Mei 2018 adalah sebesar -(minus) 0,09%.

Padahal dua tahun sebelumnya saat Ramadan berlangsung di bulan Juni 2016, inflasi Kota Semarang tercatat amat tinggi pada angka 1,05%. Dan juga di tahun 2017, inflasi di Kota Semarang tercatat juga masih tinggi sebesar 0,37%.

Dengan nilai inflasi di bawah 0% yang berhasil dicatatkan oleh Wali Kota yang akrab disapa Hendi tersebut, maka tren harga-harga pasaran di Kota Semarang justru secara positif mengalami tren penurunan.

Ini berarti masyarakat di Kota Semarang untuk pertama kalinya tidak menghadapi kondisi meningkatnya harga-harga di bulan Ramadhan.

Kondisi positif tersebut menurut Hendi dihasilkan dari upaya menggelar pasar murah sejak awal Ramadhan, serta kesuksesan kampanye konsumen cerdas kepada ibu-ibu rumah tangga di Kota Semarang.

Hal itu disampaikan Hendi saat membuka Bazaar Ramadan, Rabu (6/6).

Dalam Bazaar Ramadan yang digelar di Balai Kota Semarang itu Pemerintah Kota Semarang membagikan 4.110 paket sembako murah kepada masyarakat.

“Bazaar murah seperti ini memang konsisten kami selenggarakan untuk dapat menjaga kestabilan harga, dan alhamdulillah kalau melihat catatan inflasi BPS, hasilnya sangat positif,” tutur Wali Kota Semarang yang juga merupakan Politisi PDI Perjuangan tersebut.

Selain itu, lanjut dia, edukasi yang dilakukan kepada ibu-ibu di Kota Semarang untuk menjadi konsumen cerdas juga telah berhasil, sehingga pedagang tidak coba-coba untuk menaikkan harga seenaknya, karena pasti tidak akan dibeli.

Hendi juga menuturkan jika catatan inflasi BPS tersebut sesuai dengan kondisi tidak adanya kenaikan harga-harga di beberapa pasar yang dipantaunya.

Bahkan dalam data yang terdapat pada Sistem Harga Komoditi milik Tim Pengendali Inflasi Daerah Jawa Tengah, tercatat beberapa komoditi mengalami penurunan harga yang tajam.

Sebut saja komoditi telur ayam ras yang pada tanggal 8 Mei 2018 berada pada harga Rp 26.000,- per kilogram, di tanggal 5 Juni 2018 turun menjadi Rp 21.000 per kilogram. (is)

 

 

21

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan