Masjid Kapal, Imajinasi Zaman Nabi Nuh di Era Digital

SEMARANG (Asatu.id) – Pernah dengar cerita Nabi Nuh Alaihissalam? Dengan perahu buatannya, sang nabi berhasil menyelamatkan umatnya dari bencana banjir bandang. Sementara orang yang menentang ajarannya dan menolak ajakannya, tak satu pun selamat dari badai air bah yang datang mendadak itu, termasuk putra tercintanya yang bernama Kan’an.

Di era digital seperti sekarang ini, cukup dengan membuat replika kapal, ternyata mampu membawa imajinasi orang untuk membayangkan perjuangan Nabi Nuh dan kaumnya. Orang pun jadi percaya bahwa tak ada yang tak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Kisah Nabi Nuh dan kapalnya itulah salah satu buktinya.

Bangunan masjid berbentuk “Kapal Nabi Nuh” itu bisa ditemui di Jalan Kiai Padak RT 5/RW 5, Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan Semarang. Namanya Masjid Safinatun Najah. Ada juga yang menyebut Masjid Kapal Bahtera Nabi Nuh.

masYa, disebut masjid kapal karena bentuknya seperti kapal. Persisnya menggambarkan kapal Bahtera Nabi Nuh yang menyelamatkan umatnya saat negerinya diterjang banjir bandang.

Masjid unik ini berada di kampung pinggiran, di antara kebun dan pematang sawah. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari Bandara A Yani. Di kampung itulah seorang kiai bernama Achmad membangun masjid unik ini seluas 2.500 meter persegi.

Masjid berlantai tiga itu beberapa waktu lalu sempat viral di media sosial. Lantai pertama digunakan sebagai ruang pertemuan, lantai dua untuk masjid, dan lantai tiga untuk aktivitas mengajar dan balai kerja.

Saat Ramadan seperti sekarang ini, banyak warga yang datang. Untuk sekadar rekreasi, santai seraya tiduran, atau berfoto sambil menunggu waktu berbuka. Di lantai satu saat ini kebetulan ada pengobatan alternatif, sehingga banyak warga yang datang memanfaatkannya.

Konon sebelumnya, Kiai Achmad memang punya mimpi membuat masjid mirip kapal Nabi Nuh. Jadi untuk mengingat sejarah dan mengajak orang lain mengingat Tuhan, maka dibuatlah masjid itu.

Kiai Achmad pun berpesan, jika masjid sudah jadi bisa dimanfaatkan warga secara gratis untuk pertemuan, hajatan, atau resepsi pernikahan. Kiai Achmad merupakan ulama Semarang yang juga seorang guru agama.

Masjid layaknya perahu atau kapal ini dibangun dengan panjang 50 meter, lebar 17 meter, dan tinggi 14 meter. Memiliki bentuk kapal besar lengkap dengan jendela berbentuk bulat, puritan, haluan, dan asesoris kapal lainnya. Cukup dengan membayar Rp 4 ribu, termasuk parkir motor, kita bisa leluasa menikmati keindahan bangunannya, atau sambil memberi makan ikan yang ada di kolam yang mengelilingi bangunan masjid.

Selama pengerjaan tahun lalu, prosesnya melibatkan 40 tukang,  dengan total biaya sekitat Rp 5,5 miliar. Masjid ini memiliki enam pintu utama di samping kanan dan kiri dan memiliki 74 jendela berbentuk bulat, yang digambar oleh seorang arsitek.

Karena keunikan asesorisnya,  tempat ini menjadi sebuah destinasi wisata religi baru di Kota Semarang. Pengunjung yang datang pun berasal dari berbagai kota bahkan luar Jawa.

Penasaran? Coba sempatkan waktu untuk datang. (is)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *