Ramadan, Kawasan Masjid Agung Semarang Jadi Ladang Rezeki Penjual Takjil

SEMARANG (Asatu.id) – Bulan Ramadan menjadi ladang rezeki bagi penjual takjil di kawasan Masjid Agung Semarang. Di sepanjang jalan kawasan tersebut, dipenuhi pedagang musiman yang memanfaatkan momentum setahun sekali.

Mulai pukul 15.30 WIB, lapak pendagang sudah berdiri rapi di sekitar kawasan masjid Agung Semarang. Berbagai menu takjil memenuhi tempat dasaran mereka. Bahkan, tidak sedikit dari pedagang memulai usaha sejak pagi hari.

Masyarakat Kota Semarang tak perlu bingung memilih cemilan hingga makanan berat untuk buka puasa bersama keluarga. Masalahnya, aneka jajanan warungan, jajanan sekolahan, gorengan, cilok, bakso, es campur, gudeg dan makanan khas Semarang tersedia di sini. Bahkan, di sela-sela ratusan pedagang takjil, ada juga pedagang yang menjual busana muslim untuk menyambut Ramadan dan Lebaran 2018.

Sapri, penjual es campur di kawasan Masjid Agung Semarang, memaparkan lokasi ini sudah rame dikunjungi pembeli pada pukul 16.00 (4 sore). Khusus dagangannya, siang hari biasanya sudah rame. “Banyak orang sehabis belanja, terus mampir ke lapak saya untuk membeli es campur,” ujar Supri kepada Asatu.id, Minggu (27/5).

Soal omzet berjualan di kawasan Masjid Agung Semarang di bulan Ramadan jangan diragukan lagi. Sapri mengaku pendapatannya berjualan di kawasan ini bisa mencapai 2 kali lipat dibandingkan bulan-bulan lainnya.

“Jelas jauh lebih banyak to mas. Saya bisa meraup dua kali lipat dari bulan-bulan lainnya. Pokoknya keuntungannya lumayan untuk menutupi kebutuhan pada Lebaran nanti,” kata Sapri yang enggan menyebutkan jumlah penghasilannya.

Jika Sapri menggantungkan hidup dari berdagang, lain halnya dengan Wati. Ibu muda ini menjual menu takjil di kawasan Masjid Agung Semarang hanya sebagai usaha sampingan untuk menambah koceknya.

Kendati demikian, usaha sampingannya ini cukup memberikan pundi-pundi uang untuk menutupi kebutuhan belanja selama Ramadan dan Lebaran nanti.

“Hasilnya lumayan mas. Minimal hobi saya membuat jajanan bisa tersalurkan dan memberikan tambahan penghasilan untuk keperluan rumah tangga,” ujarnya.

Baik Sapri maupun Wati mengaku pada jam-jam menjelang buka puasa, bursa transaksi takjil anatara pembeli dan penjual memacetkan lalu-lintas di sekitar kawasan Masjid Agung Semarang.

Masalah kemacetan ini, kata Sapri, dapat dimaklumi para pengguna jalan. Masalahnya, sejumlah kendaraan para pembeli, baik motor maupun mobil, banyak parkir di tepi jalan. Kesemrawutan jalan semakin bertambah dengan banyak lalu-lalang para pembeli yang ingin membeli aneka jajanan khas Semarang untuk berbuka puasa di rumah bersama sanak keluarga.

Kemacetan kawasan ini menjelang buka puasa diamini Danu, salah seorang pembeli takjil di kawasan Masjid Agung Semarang. “Macet itu sudah wajar mas. Namanya banyak orang berjualan dan banyak pembeli, pasti juga macet. Apalagi, kawasan Masjid Agung kan dekat dengan Pasar Johar,” tandas Danu. (Dicky Setiawan)

 

 

35

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan