Masjid Sekayu Lebih Tua dari Masjid Agung Demak

SEMARANG (Asatu.id) – Suasana Kampung Sekayu, Kecamatan Semarang Tengah, setiap Ramadan terasa berbeda dari biasanya. Di beberapa sudut gang yang tidak terlalu lebar, banyak orang hilir mudik. Tak hanya warga setempat, beberapa orang justru mengaku datang dari daerah lain, bahkan dari luar kota.

Orang-orang “asing” tersebut mengaku sengaja datang ke Kampung Sekayu untuk melakukan iktikaf di masjid, sebagian lagi ingin berziarah ke makam Kiai Kamal.

Ya, di Kampung Sekayu memang berdiri sebuah masjid tua peninggalan sejarah. Bahkan usianya lebih tua dari Masjid Agung Demak. Masjid didirikan oleh Kiai Kamal, sosok ulama asal Cirebon yang makamnya ada di area bangunan masjid itu.

Di bulan Ramadan seperti sekarang ini, suasana Masjid Sekayu tampak lebih ramai dari biasanya. Sejumlah orang kelihatan khusyuk beriktikaf, beberapa di antaranya dengan bersandar pada saka atau tiang penyangga masjid.

Jika ingin mengetahui detail sejarah Masjid Sekayu, kita bisa menghubungi KH Achmad Arief, Ketua Takmir Bidang Komunikasi dan Irformasi.

Menurut KH Achmad Arief, Masjid Sekayu didirikan pada 1413 Masehi, tujuh tahun lebih tua dari Masjid Agung Demak yang didirikan pada 1420 M. Itu sebabnya Masjid Sekayu diyakini sebagai masjid tertua di Jawa Tengah.

Lalu bagaimana dengan nama Sekayu? “Sekayu berasal dari kata Sentral Kayu atau kampung Pekayuan. Dulunya Sekayu memang pangkalan kayu jati unggul yang dikumpulkan dari beberapa daerah, seperti Ungaran, Solo, Wonogiri dan sekitarnya,” kata Achmad Arief.

Sedang pendiri masjid, yaitu seorang ulama dari Cirebon bernama Kiai Kamal, adalah panglima perang yang diperintah Sunan Gunung Jati memilih dan mengumpulkan kayu jati untuk pembangunan Masjid Agung Demak

Kayu-kayu jati pilihan itu kemudian dikirim ke Kesultanan Demak Bintoro dengan cara diikat dan dirakit melalui aliran Kali Semarang, selanjutnya dialirkan ke Demak melalui Laut Jawa.

Masjid Sekayu pada awal pendirian, atapnya dibangun dari bahan rumbia, dan berlantai tanah dengan empat tiang penyangga utama. Tiang penyangga itu konon hadiah dari Raden Patah yang diambilkan dari pendopo Kerajaan Majapahit, atas pengabdian dan peran para ulama pendiri masjid Sekayu yang ikut berperan dalam pembangunan Masjid Agung Demak.

Kini Masjid Sekayu sudah mengalami beberapa kali renovasi disesuaikan dengan perkembangan zaman. Namanya juga menjadi Masjid Taqwa Sekayu. Namun beberapa sisi bangunan utama masih dipertahankan sesuai aslinya, yaitu mustaka masjid, pintu, dan empat tiang penyangga yang telah dibungkus sisiran kayu tipis.

“Tiang penyangga masih asli, cuma kami tutup. Kami khawatir ada jamaah yang menyalahgunakan dan mengarah ke perbuatan syirik,” tambah Achmad Arief.

Satu lagi bukti bahwa Masjid Sekayu dibangun oleh ulama dengan peran tokoh-tokoh kerajaan masa lalu, adalah adanya sejumlah gang di sekitar masjid yang disebut Gang Kepatihan, Temenggungan, dan Padepokan (Depok).

23

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan