Akademisi Harus Mampu Menulis Buku yang Mudah Dicerna

SEMARANG (Asatu.id) – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah, Amir Machmud NS mengatakan, banyak buku yang ditulis kalangan akademisi tetapi tidak banyak yang membaca karena sulit dan rumit. Kalangan akademisi seharusnya mampu menulis buku yang mudah dicerna dan dipahami.

Hal itu dikatakan Amir Machmud saat menjadi pembicara sekaligus pembedah buku berjudul ”Kosong Tapi Berisi”, sebuah buku kewirausahaan yang ditulis Rektor Udinus Prof Edi Noersasongko.

Kegiatan bedah buku tersebut diadakan bersamaan dengan acara ngabuburit jelang buka puasa, yang dihadiri mahasiswa dan dosen, berlangsung di Masjid Baitul Ilmi Udinus, Jumat (25/5).

”Banyak yang berlomba-lomba membuat buku, termasuk kalangan akademisi, namun hasilnya rumit dan sulit dipahami, akhirnya tak banyak yang membaca dan jadi percuma,” kata Amir Machmud.

Mantan Pimred Suara Merdeka itu menuturkan bahwa dari pengamatannya ternyata tidak semua akademisi mampu menulis buku yang mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai kalangan. Hal itu sebaiknya menjadi tantangan bagi akademisi yang ingin berkarya menulis buku.

“Akademisi harus mampu menulis buku yang isinya mudah dicerna, sehingga hasilnya tidak percuma. Itu adalah sebuah tantangan,” kata Amir.

Menyinggung buku kewirausahaan ”Kosong Tapi Berisi” karya Rektor Udinus Prof Edi Noersasongko, Amir Machmud mengakui bahwa buku tentang kewirausahaan itu memiliki isi yang mudah dipahami dan lugas. Dan karya seperti itu tidak banyak ditemukan di kalangan akademisi.

Usai acara bedah buku dilanjutkan dengan pembagian menu makanan buka puasa di halaman Masjid Baitul Ilmi Udinus Jl Imam Bonjol No. 207 Semarang.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *