Agama dan Politik Saling Mengkait

SEMARANG (Asatu.id) – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jateng Drs Tafsir MAg menegaskan hubungan agama dan politik merupakan hubungan yang saling kait mengkait. Agama tidak bisa dilepaskan dari politik, demikian sebaliknya.

“Bedanya, politik bisa memaksa atau memiliki alat paksa, sedangkan agama tidak. Contohnya, polisi bisa memanggil seseorang, sementara ulama tidak bisa memaksa seorang mengikuti agamanya,” kata Tafsir pada diskusi “Pilkada Anti Sara”, di Gedung NRC Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Ruang 408, Semarang, Kamis (24/5).

Nara sumber lain pada diskusi ini, yakni Drs Yuwanto MSi PhD (Kaprodi S3 DIS FISIP Undip), Kombes Pol Sulistyo PH MSi (Satgas Nusantara Polri), Andi Dewanto (Kabiro Kompas Tv Jateng), Setiawan Hendra K (Pimpinan Redaksi Suara Merdeka.com)  dan Cecep Burdansyah MH (Pimpinan Tribun Jateng). Diskusi ini dimoderatori Teguh Hadi Prayitni, jurnalis dari SCTV.

Menurut Tafri, supremasi politik sudah pada zaman Rosulullah. Pada saat Nabi Muhammad SAW hendak melakukan ibadah haji, pemimpin Mekah yang masih kafir melarang niatan nabi.

“Sebagai warga Mekah, Nabi bersikap fair. Sekelas Nabi saja tidak melakukan perlawanan atau menuruti perintah penguasa Mekah yang kafir,” paparnya.

Betapa sentralnya kekuatan politik saat itu, lanjutnya, membuat Nabi terpaksa melakukan hijrah ke Madinah. Lewat kesepakatan elite Yasrik, Rosulullah dengan pengikutnya berbondong-bondong pindah ke Madinah. Di daerah baru, Nabi akhirnya mampu menjadi pemimpin yang disegani, baik oleh kawan maun lawan umat Islam.

“Peristiwa hijarahnya nabi dari Mekah ke Madinah ini merupakan keputusan politik. Jadi, kalau mau mengganti seorang pemimpin, syaratnya harus melakukan secara berbondong-bondong (massa),” katanya.

Dia mencontohnya, kejatuhan rezim Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto juga terjadi karena aksi ratusan ribu mahasiswa. Mahasiswa yang tak puas atas pemerintahan Soeharto melancarkan aksi demo yang melibatkan massa dalam jumlah ratusan ribu.

Perebutan kekuasaan, menurut Tafsir, juga terjadi kala Rosulullah wafat. Kaum Muhajirin dan Ansor saling berebut untuk mengisi jabatan lowong sepeninggalan Rosulullah.

“Suksesi kepempinan pascanabi wafat terjadi perdebatan sengit, Melalui lobi-lobi politik dari pihak berseteru, akhirnya diputuskan Abu Bakar yang menjadi sahabat pertama nabi ditunjuk untuk menjadi kalifah Islama pertama,” paparnya.

Terkait pemilukada, Tafsir meminta anggota masyarakat yang memiliki hak pilih agar menggunakan secara arif dan bijaksana. “Pilihlah pemimpin yang rasional. Jangan golput dan jangan pilih pemimpin yang bersponsor,” tandasnya.

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *