Ternyata Penarikan Parkir di TBRS Selama Ini Tidak Setiap Hari

SEMARANG (Asatu.id) – Kepala UPTD Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kristanto mengatakan, selama ini penarikan retribusi atau parkir terhadap pengunjung hanya dilakukan saat ada kegiatan. Sedang pada hari-hari biasa, tidak ada penarikan parkir.

“Memang selama ini pengelola tidak menarik retribusi pengunjung, kecuali ada kegiatan seperti resepsi, pentas seni atau yang lain. Apalagi kami juga terbatas tenaga pengelola. TBRS sendiri sifatnya masih semi sosial,” kata Kristanto yang dikenal sebagai Kris Dalang.

Sementara soal rencana pemasangan alat parkir, Kristanto tidak mempermasalahkan, karena hal itu menjadi kewenangan dinas. Termasuk siapa nanti yang akan mengelola.

Kris berharap jika nanti ada retribusi bagi pengunjung sebaiknya besaran tarifnya flat, seperti perda yang berlaku, tidak seperti di mal yang berjenjang.

Sementara Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase), Handry TM, berharap pemasangan alat parkir di komplek TBRS tidak memberatkan pengunjung. Caranya besaran tarifnya disesuaikan perda yang berlaku karena keberadaan TBRS masih di lingkup pemkot.

Sebelumnya Handry mendengar informasi bahwa penarikan tarif parkir di TBRS akan berdasarkan waktu kunjungan seperti di mal-mal. Jika hal itu diberlakukan tentu akan berimbas juga pada pengurus Dekase yang kantornya ada di dalam kompleks TBRS.

“Kan hampir setiap hari teman-teman pengurus ada di kantor atau melakukan kegiatan di sana. Jika ditarik parkir dengan sistem waktu tentu saja berat. Kalau besaran tarifnya flat mungkin masih bisa ditoleransi,” katanya. (is)

 

17

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan