Ramadan di Sunan Kuning, Jangan Anggap Cuma Ada Maksiat

SEMARANG (Asatu.id) – Di bulan Ramadan ini, jika Anda punya waktu, cobalah menengok kompleks Resosialisasi dan Rehabilitasi Argorejo, yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kuning. Lokasinya di wilayah Kecamatan Semarang Barat, tepatnya di RW IV Kelurahan Kalibanteng Kulon.

Dan bagi kaum lelaki, jangan coba-coba datang dengan niat bisa mencari kenikmatan semu prostitusi. Anda pasti kecewa. Sebab selama bulan puasa ini, para wanita penjaja seks komersial (PSK) dilarang melayani lelaki hidung belang.

Meski sudah ada larangan dari pengurus resos, mungkin masih ada satu dua PSK yang melanggar dan nekat menerima tamu secara sembunyi-sembunyi. Namun jika ketahuan, risikonya si PSK harus segera angkat koper alias pindah dari Sunan Kuning.

“Larangan ini sudah melalui rapat dan disepakati bersama antara pengurus resos, perwakilan pemerintah dan aparat serta mucikari. Makanya kalau ada yang melanggar kami tidak bisa toleransi. Yang nekat melanggar pasti ketahuan, karena kami ada tim yang selalu mengawasi,” kata Ketua Resos, Suwandi, yang ditemui usai salat tarawih.

Bukti dari keseriusan pengurus menutup sementara praktik prostitusi selama Ramadan, kini setiap siang suasana di kompleks Sunan Kuning tampak sepi. Bahkan nyaris seperti kampung mati. Tak ada lalu lalang kendaraan tamu seperti hari-hari biasanya di luar Ramadan.

Tapi cobalah lihat suasana malam hari. Warga penghuni, mucikari dan puluhan PSK yang tidak pulang kampung ramai-ramai datang dan memenuhi Masjid Al Hidayah di kompleks setempat. Tak hanya sekedar ingin berjamaah salat Maghrib atau Isya. Tapi mereka juga banyak yang mengikuti saalat tarawih, pengajian kultum, bahkan tadarusan.

“Tanpa saya cerita bisa dilihat bagaimana suasana kompleks ini setiap hari selama Ramadan, terutama malam hari. Orang biasanya kan hanya berpikir maksiatnya saja. Padahal anak-anak yang tidak pulang juga ada yang ikut kegiatan ibadah di masjid,” tutur Suwandi.

Sebagai orang yang dipercaya mengurusi “masa depan” anak-anak resos, Suwandi terkadang juga merasa terbebani. Bagaimana tidak? Ia harus bisa memberi harapan kepada 486 wanita PSK yang menjadi anak buahnya, bahwa masih ada masa depan yang membentang. Bukan kehidupan suram penuh kemaksiatan yang akan terus menerus mereka lalui. Perjalanan hidup harus bermuara pada pertaubatan.

“Kami ikut bertanggung jawab atas masa depan mereka. Sebab tidak mungkin mereka akan berada di resos terus. Untuk itu kami harus beri mereka pendidikan keterampilan untuk dijadikan bekal  ketika sudah keluar dari kompleks dan hidup bermasyarakat,” kata Suwandi.

Menurut Suwandi, terkadang dirinya juga menerima curhatan PSK yang risau dengan status yang disandangnya. Siapa sih yang tidak risih menyandang predikat wanita nakal, murahan, penggoda lelaki, penghuni kompleks dan lain-lain?

Ya begitulah kenyataannya. Tidak ada wanita yang ingin direndahkan martabatnya karena status yang disandangnya.

“Mereka kami beri pendidikan keterampilan berupa tata boga dan  salon. Mudah-mudahan mereka bisa segera taubat dan memanfaatkan ilmu yang didapat. Tuga kami hanya sekadar berupaya mengentaskan,” ujar Suwandi. (is)

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *