Carilah Ilmu Walau Sampai di Masjid Ki Ageng Pandanaran

Ketua Takmir Masjid Ki Ageng Pandanaran, H Agus Krisdiyono Ssos MSi (udin/asatu.id)

SEMARANG (Asatu.id) – Pernah dengar hadist yang berbunyi: “Carilah ilmu walau sampai Negeri Cina”? Bukan status hadistnya yang akan kita bahas, tetapi makna dari hadist itu yang luar biasa. Secara umum, hadist tersebut mengandung ajakan terhadap semua orang untuk belajar ke mana pun, di mana pun, sampai kapan pun, bahkan dengan siapa pun dan sesulit apa pun.

Seandainya Pengurus Takmir Masjid Ki Ageng Pandanaran. Semarang, mengambil hadist itu sebagai rujukan, mungkin tidak salah. Maka berubahlah kalimat ajakan itu menjadi: “Carilah ilmu walau sampai Masjid Ki Ageng Pandanaran”. Apa maksudnya? Ya, selama bulan Ramadan, pengurus Takmir Masjid Ki Ageng Pandanaran di Kelurahan Mugassari, mengadakan banyak kegiatan keagamaan. Salah satunya belajar baca Alquran khusus untuk kalangan bapak-bapak dan ibu- ibu atau para orang tua.

“Belajar itu tidak hanya monopoli anak-anak atau remaja. Termasuk belajar membaca Alquran. Yang sudah keluarga atau lanjut usia juga bisa belajar Alquran. Karena menurut pepatah, belajar itu bisa dilakukan sampai manusia masuk liang lahat. Dan menurut hadist Rasulullah, kita dituntut terus belajar walau jauh tempatnya. Tidak ada istilah terlambat. Di bulan Ramadan ini kami mengadakan program itu. Siapa pun yang ingin belajar membaca Alquran bisa datang ke masjid setiap Minggu pagi,” kata Ketua Takmir Masjid Ki Ageng Pandanaran, H Agus Krisdiyono Ssos MSi, Jumat (18/5).

Seperti masjid-masjid yang lain, selama Ramadan ini Masjid Ki Ageng Pandanaran setiap harinya juga menggelar acara. Selain kuliah tujuh menit (kultum) yang diadakan usai shalat tarawih, juga ada kultum usai shalat subuh. Ada juga kegiatan shalat hajat dan tasbih. Kegiatan yang lain adalah tadarus bapak-bapak nsetelah shalat tarawaih dan untuk ibu-ibu setelah shalat subuh.

“Ramadan kali ini setiap menjelang berbuka puasa kami juga menyediakan takjil (menu buka). Yang datang masyarakat sekitar dan para musyafir, khususnya para peziarah dari luar kota. Menunya beragam, tergantung yang diberikan masyarakat sekitar.  Untuk kegiatan anak-anak kami mengadakanTPQ setiap Minggu, Selasa dan Kamis sehabis ashar,” tambah Agus.

Kegiatan lain yang diselenggarakan takmir adalah menyantuni anak yatim piatu dan kaum dhuafa. Bentuk santunan adalah sembako seharga Rp 160 ribu. Pengurus takmir juga sudah menjadwalkan kegiatan parenting atau pembelajaran cara menyajikan makanan dan kursus membuat kerajinan dari barang bekas.

“Kami berusaha meningkatkan kegiatan setiap tahunnya, di samping mengadakan acara rutin seperti yang sudah berjalan selama ini, yaitu peringata Nuzulul Quran , pengelolaan zakat fitrah, takbir keliling dan shalat Idul Fitri,” ujar Agus.

24

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan