Tak Ada Sedihnya Siapkan Bubur India

SEMARANG (Asatu.id) – Bagi Tiyok (31) dan Ahmad Pasrin (47), bulan Ramadan bisa disebut sebagai bulan pengabdian. Tak sekadar mengabdi kepada Sang Khalik, tetapi juga mengabdi kepada sesama, yakni orang-orang yang membutuhkan bubur India sebagai menu buka puasa.

Lho, apa hubungan dua sosok lelaki di atas dengan bubur India?

Coba sesekali di bulan puasa ini sempatkan waktu bertandang ke Masjid Pekojan. Di masjid tua peninggalan pedagang Gujarat, India itu, sosok Tiyok dan Ahmad Pasrin pasti ditemukan. Masjid Pekojan memang dikenal sebagai masjid yang rutin menyiapkan takjil (menu berbuka) saat Ramadan. Menu utamanya adalah bubur India.

Tidak usah bingung ketika menemui mereka di masjid tua itu. Mungkin keduanya sedang mempersiapkan tempat jamaah yang akan berbuka puasa di serambi masjid. Bisa pula keduanya sedang mencuci cangkir dan mangkuk yang biasa digunakan untuk membagi adonan bubur. Atau mungkin juga keduanya bisa ditemui sedang membantu memasak bubur bersama warga yang lain.

Begitulah kegiatan rutin dua sosok lelaki itu saat bulan Ramadan. Sudah beberapa tahun ini kegiatan itu mereka lakukan.

“Seneng aja rasanya, tiap Ramadan ada tugas rutin. Seneng bisa melayani banyak orang, tidak ada rasa sedihnya,” kata Tiyok.

Tiyok mengaku asli warga Pekojan Tengah. Bapak satu anak itu setiap hari aktivitasnya antar jemput anak sekolah. Jika sudah longgar waktunya, ia segera membantu ibunya berjualan di kawasan Petolongan, tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Beda lagi dengan Ahmad Pasrin, yang di Kota Semarang sebagai pendatang. Ia asalnya Bojonegoro Jawa Timur.

Di Masjid Pekojan, Pak Sirin, panggilan akrabnya, mempunyai tugas memasak bubur India. Ia dibantu dua temannya, Ahmad Ali dan Ahmad Tohir (Magelang).

“Setiap hari harus menyiapkan 200-300 mangkuk bubur dan minuman, baik susu, kopi maupun teh. Kalau buahnya ya semangka atau kurma. Seneng aja rasanya, tidak ada beban,” kata Pak Sirin. (is)

 

 

 

17

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan