Masjid Pekojan, Awalnya Mushala Kecil Peninggalan Pedagang Gujarat

SEMARANG (Asatu.id) – Masjid Jami’ Pekojan tidak bisa dilepaskan dari sejarah penyebaran dan perkembangan agama Islam, khususnya di Jawa. Masjid ini termasuk salah satu masjid tua yang dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya.

Secara administratif, Masjid Pekojan berada di Jalan Petolongan 1, Kampung Pekojan, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah.

Kawasan itu sering disebut sebagai kawasan Pecinan. Lokasinya penuh dengan bangunan tua yang jadi pertokoan, dan setiap hari ramai dengan hiruk pikuk aktivitas perdagangan.

“Masjid ini termasuk masjid tua. Setiap harinya ramai jamaah, baik dari warga sekitar maupun pendatang, terutama para karyawan toko di kawasan Pekojan. Apalagi di bulan Ramadan seperti sekarang ini,” tutur Kiai Ali Haedar Baharun, Ketua Takmir Masjid yang ditemui usai menjadi imam shalat.

Masjid Pekojan berada di perkampungan padat penduduk. Dari beberapa sisi terlihat bangunan-bangunan besar di sekitarnya dengan ciri khas bertembok tebal ala Eropa.

Dalam prasasti yang tertulis di dinding yang terbuat dari marmer, Masjid Pekojan itu berdiri di atas tanah wakaf pemberian saudagar Gujarat, India, Khalifah Natar Sab.

“Ceritanya setelah menetap lama di Semarang, khalifah ini kemudian membangun sebuah mushala kecil dengan dikelilingi makam,” kata Kiai Ali.

Sayangnya, tak ada data otentik kapan awal mula mushala yang kemudian menjadi masjid itu dibangun. Tulisan dengan menggunakan Arab pegon gundul itu hanya menyebutkan bahwa mushala dipugar oleh lima habib sebagai panitia utama, yaitu H Muhammad Ali, H Muhammad Asyari Akwan, H Muhammad Yakub, Alhadi Ahmad, H Muhammad Nur dan H Yakub. Masjid ini dipugar sekitar tahun 1309 Hijriah atau 1878 Masehi.

Luas bangunan asli masjid ini pun awalnya hanya sekitar 16 meter persegi, dan menggunakan kayu serta dikelilingi oleh bangunan makam. Dan pada tahun 1975–1980 Masjid Pekojan mengalami renovasi besar-besaran.

“Saat dilakukan renovasi, beberapa makam dipindahkan, namun masih ada yang dipertahankan seperti makam keturunan pendiri masjid, imam dan para pengurus masjid,” tutur Kiai Ali.

Misalnya di bagian dalam sisi timur masjid, terdapat satu makam, yaitu makam dari Syarifa Fatima, seorang warga Pekojan yang pada zamannya terkenal suka menolong dan menyembuhkan penyakit warga.

Nah, di dekat makam Syarifa Fatima itu ada pohon bidara yang bibitnya didatangkan langsung dari Gujarat. Konon, daun dari pohon bidara ini bisa dimanfaatkan untuk melemaskan otot mayat yang kaku sekaligus menghilangkan bau tak sedap saat dimandikan.

Kiai Ali tidak menampik masih adanya kepercayaan masyarakat terhadap sugesti itu. Bahkan warga pun sering memanfaatkan daun pohon bidara untuk keperluan pengobatan. Sejauh mana kegunaan pohon bidara dan hasil yang didapat, Wallahualam.

56

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan