Roti Ganjel Rel di Pawai Dugderan, Apa Filosofinya?

SEMARANG (Asatu.id) – Rangkaian Karnaval Dugderan akan digelar Selasa siang ini (15/5). Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi akan menaiki kereta kencana dan berperan sebagai pemimpin pertama Kota Semarang, Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat.

Peserta karnaval atau pawai akan menuju Masjid Kauman Semarang dilanjutkan ke Masjid Agung Jawa Tengah. Di kedua masjid tersebut, akan ada pembagian Roti Ganjel Rel.

Apa sebenarnya makna dan filosofi Roti Ganjel Rel yang selalu menyertai pawai menjelang Ramadan ini?

Ada yang bilang, makna dan filosofi Roti Ganjel Rel ini adalah, supaya dalam menjalani ibadah puasa Ramadan bisa menerima secara ikhlas, tidak ada ganjalan.

Ganjel berasal dari Bahasa Jawa yang berarti pengganjal. Bentuknya mirip dengan jalur kereta api berganjal kayu. Nah, roti Semarang ini mengambil namanya dari situ.

Saat ini tidak mudah mencari roti berwarna coklat jenis ini, bahkan di Semarang sendiri. Tetapi terkadang bisa ditemukan juga di berbagai pusat souvenir Kota Semarang, Pasar Johar atau Waroeng Semawis.

Roti Ganjel Rel ini juga dikenal dengan Roti Gambang. Justru Roti Gambang adalah nama asli Roti Ganjel Rel, tetapi orang-orang di Semarang lebih suka menyebut roti ini dengan nama Roti Ganjel Rel.

Sebutan Roti Gambang muncul karena bentuk roti tersebut dianggap sebagai Gambang Belanda, sebuah alat musik tradisional. Di sisi lain, masyarakat Semarang merasa roti ini lebih seperti ganjalan rel. Konon, di zaman dulu, Gambang atau Roti Ganjel Rel sering digunakan untuk sarapan pagi.

Jangan kaget ketika sedang menikmati Roti Ganjel Rel ini, karena agak keras dan agak kasar. Namun rasa dan sensasinya saat makan bisa membawa kita pada cita rasa klasik era penjajahan Belanda di Semarang. Begitu khasnya.

Roti Ganjel Rel juga kurang dikenal karena sulit untuk dimakan. Maka jangan lupa ketika menikmati roti itu harus menyediakan minuman, biar sensasinya lebih mengena.

Roti Ganjel Rel ini juga merupakan salah satu souvenir khas Kota Semarang. Sepintas, roti ini mirip dengan jenis makanan onde-onde. Sama-sama ditaburi biji wijen. Tapi tentang bentuk dan maknanya tentu berbeda.

Ganjel Rel merupakan roti khas Dugderan. Maka permintaan akan roti ini biasanya meningkat seiring datangnya bulan Ramadan. Di luar bulan puasa, Roti Ganjel Rel jarang bisa ditemui karena tidak diproduksi setiap hari.

Awalnya, bahan asli Roti Ganjel Rel adalah singkong. Tepung singkong memiliki sifat kenyal, sehingga sulit ditelan. Karena itu, Roti Ganjel Rel kurang diminati pangsa pasar.

Kini, tekstur roti itu terasa lebih lembut karena diproduksi dari bahan tepung terigu, sehingga lebih mudah dimakan. Namun soal resep masih asli, tidak berubah sedikit pun sejak zaman Belanda.

Cobalah sempatkan waktu menikmati Roti Ganjel Rel ini di waktu pagi atau sore hari. Jangan lupa siapkan secangkir teh, kopi atau minuman lain kesukaan Anda. Nikmatilah sensasinya. (is)

 

62

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan