Dugderan Digelar Tandai Awal Ramadan, Ini Pesan Ketua DPRD Kota Semarang

SEMARANG (Asatu.id) – Karnaval atau pawai Dugderan menyambut datangnya bulan Ramadan kembali digelar di Kota Semarang, Selasa (15/5). Tradisi yang sudah berusia ratusan tahun itu masih tetap semarak seperti tahun-tahun sebelumnya. Ribuan warga tumplek blek di sepanjang jalan dan tempat yang dilalui peserta karnaval, antara lain halaman balai kota, Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman, dan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Ada yang berbeda dalam gelaran Dugderan tahun ini. Patung Warak Ngendok, binatang imajiner khas tradisi Dugderan itu, menghiasi seluruh bagian atas kereta kencana yang dinaiki para pejabat, termasuk Walikota Semarang Hendrar Prihadi dan Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, dalam kirab dari Balai Kota menuju Masjid Kauman.

Wali Kota yang menjadi inspektur upacara dan berperan sebagai Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Arya Purbaningrat, melakukan pemukulan bedug di Masjid Kauman. Prosesi selanjutnya berlangsung di Masjid Agung Jawa Tengah.

Sementara Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, tampil elegan memerankan tokoh Kyai Tumenggung Yudonegoro atau Kyai Adipati Suromenggolo, Bupati Semarang era 1674 -1701.

Apa pesan Supriyadi berkaitan dengan tradisi Dugderan tahun ini? “Sesuai tema yang diusung, yaitu Dugderan Membangun Kebersamaan dan Kerukunan Mewujudkan Semarang Hebat, saya mengajak warga Kota Semarang untuk selalu menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan, untuk membangun kota tercinta ini,” katanya saat berada di Masjid Kauman, di sela-sela prosesi upacara.

Sebagai wakil rakyat, Supriyadi merasa bangga melihat ribuan warga Kota Lunpia yang memadati jalan demi melihat tradisi Dugderan, atau sekadar mengambil foto dari moment yang hanya terjadi menjelang bulan Ramadan itu. Dari siang sampai menjelang malam, warga tak beranjak mengikuti prosesi Dugderan sampai selesai.

Ketika berada di Masjid Kauman, Supriyadi yang mengenakan pakaian tradisional, ikut mendampingi Wali Kota Hendrar Prihadi yang memerankan tokoh Bupati Semarang RMT Aryo Purboningrat membacakan Shukuf Halaqoh yang dilanjutkan memukul bedug. Suara bedug dan dentuman meriam inilah yang akhirnya mewujudkan nama Dugderan. Dug dari suara beduk, dan der dari suara meriam. Hal itu sekaligus menandai segera datangnya bulan suci Ramadan.

“Itu pertanda bulan suci Ramadan segera tiba. Pada bulan suci Ramadan yang akan kita jalani, kita harus menjaga dan mengamalkan perbuatan baik untuk diri sendiri dan lingkungan, termasuk peduli kepada yang membutuhkan,” tutur Supriyadi.

Di Masjid Kauman dan MAJT ada juga pembagian ribuan kue ganjel rel kepada warga, setelah itu rtombongan menuju MAJT yang disambut Raden Mas Tumenggung Hadikusumo yang diperankan Sekda Jateng, Sri Puryono. RMT Hadikusumo kemudian membacakan Shukuf Halaqoh dilanjutkan dengan pemukulan bedug. Dalam waktu bersamaan terdengar puala suara dentuman meriam atau bom udara.

“Mari kita jaga kerukunan sekaligus toleransi antar-umat. Lakukan yang terbaik di bulan puasa, agar mendapat berkah dan ridho Yang Maha Kuasa. Kepada semua warga Kota Semarang, saya sampaikan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan, semoga Allah senantiasa menuntun langkah kita,” ujar Supriyadi.

114

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan