350 Warga Kecamatan Semarang Barat Antusias Ikuti Deklarasi ODF

SEMARANG (Asatu.id) – ODF (Open Defecation Free) stop buang air besar sembarangan sukses dideklarasikan oleh Camat Semarang Barat beserta jajaran kelurahan, di  halaman kantor kecamatan setempat, Rabu (9/5).

Sebanyak 350 lebih warga yang hadir membuat acara yang berlangsung meriah, karena masyarakat Kecamatan Semarang Barat terlihat antuisias dan Deklarasi ODF tersebut.

Hadir pada acara tersebut, Ketua Tim Forum Sehat Kota Semarang Krisseptiana Hendrar Prihadi, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Widoyono, muspika Kecamatan Semarang Barat, tokoh masyarakat & agama, PKK, dan para ketua RT/RW.

Sebelum acara deklarasi Krisseptiana, istri orang pertama di jajaran Pemerintah Kota menjadi perhatian khusus para masyarakat setempat. Begitu masuk, Tia panggilan akrab Krisseptiana disambut hangat oleh seluruh staf Kecamatan Semarang dan Barat.

Pada sambutanya, Tia mengingat pekerjaan rumah (PR) camat, puskesmas, PKK dan semua unsur terkait tentang kepemilikan sepiteng di setiap rumah. Dengan demikian, padaa saat deklarasi ODF tingkat Kota Semarang dilaksanakan, seluruh warga Kota ATLAS sudah bebas dari ancaman penyakit yang ditimbulkan akibat buang air besar sembarangan.

Menurut Tia, masalah ODF tidak hanya menjadi tugas pemerintah saja, melainkan semua komponen masyarakat. Untuk itu, butuh kerja sama yang luar biasa agar koloberasi menjaga pola hidup sehat terjalin dengan baik.

“Jika masih ada yang buang air besar sembarangan di bentaran sungai, bagaimana masalah kesehatan masyarakat bisa dijaga. Contohnya, kalau lalat menempel di makanan dan makan masuk ke perut kita, efek luar biasa.  Diare, infeksi paru bisa menimpa kita, sehingga membutuhkan pengobatan yang serius,” pesannya.

Dia mengakui masih ada sejumlah rumah di Kota Semarang yang tidak memiliki sapiteng. “Rumah yang belum memiliki sepiteng, perlu didata. Sementara, pemilik rumah kita beri sosialisasi dan pengarahan tentang bahaya serangan penyakit jika tidak menjaga pola hidup sehat,” paparnya.

Tia meminta jajaran kecamatan dan kelurahan agar proaktif untuk melaporkan kondisi lingkungan yang terjadi di wilayahnya.

“Laporkan jika menemukan ada rumah belum memiliki sepiteng. Kalau warga tidak mampu membangun sepiteng, minta bantuan ke Pemkot,” tandasnya. (Age Irmas)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *