Pelatihan BHD Serentak di 25 RS Kota Semarang Raih Penghargaan Leprid

SEMARANG (Asatu.id) – Inisiasi RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang yang menggelar pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi masyarakat Kota Semarang yang dilakukan serentak di 25 rumah sakit dan 10 institusi pendidikan Kota Semarang berbuah penghargaan.

Pelatihan BHD ini dalam rangka memperingati HUT Kota Semarang yang ke-471 yang dikomandani Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meraih penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid).

Direktur RSUD KRMT Wongsonegoro, Susi Herawati mengungkapkan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bukan masalah kesadaran masyarakat untuk menolong rendah, namun lebih didasari ketidaktahuan dan ketidakmengertian masyarakat tentang tata cara memberikan pertolongan pertama kepada korban.

“Misalnya ada orang mengatakan ada istilah ‘masuk angin duduk’. Nah, sebetulnya bukan begitu. Jadi, ada denyut jantung berhenti. Kondisi jantung berhenti perlu dilakukan resistasi. Penanganannya dilakukan dengan cara pijat jantung dan bantuan pernapasan,” jelasnya saat pelatihan BHD, Senin (7/5).

Mengapa butuh pelatihan? Susi menambahkan,  pijat jantung harus dilakukan secara tidak sembarangan. Mulai dari berapa kali tekanan yang dilakukan, lalu mengembuskan udara ke hidung dan seterusnya.

“Saat mengantar pasien ke rumah sakit. Bisa jadi saat mengantar itu tidak melakukan apa-apa. Padahal pasien itu membutuhkan pijatan jantung. Bahkan ketika pertolongan itu terlambat sedikit saja bisa mengakibatkan pasien meninggal. Pijat jantung memberi rangsangan agar otot-otot bisa bekerja lagi,” pungkasnya. (is)

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *