Media Diminta Jadi Jembatan Peserta, Pemilih, Penyelenggara, Pengawas dalam Pemilu

SEMARANG (Asatu.id) – Dalam pemilihan umum, media massa harus mampu menjadi jembatan antara peserta, pemilih, penyelenggara, dan pengawas pemilu.

Hal tersebut disampaikan Anggota Dewan Pers, Imam Wahyudi dalam Diskusi Media Pilkada Berintegritas yang terselenggara di Hotel Santika Semarang, Senin (7/5).

Sebagai penjembatan, lanjut Imam, media bisa menggunakan dan memaksimalkan beberapa konteks dalam media, salah satunya fungsi iklan.

“Iklan ini fungsinya mejembatani peserta pemilu dengan pemilih. Artinya media memberikan pesan dalam format yang diinginkan peserta pemilu. Sepanjang tidak melanggar hukum dan tidak melanggar peraturan terbitkan saja. Tapi kemudian harus jelas diberitahukan bahwa itu adalah iklan,” ujarnya di sela-sela diskusi.

Selain memaksimalkan fungsi iklan, dia menambahkan, terkait fungsi peliputan dan program khusus, semua prinsip jurnalistik berlaku di dalamnya.

“Jadi ada yang pertanggungjawaban kepada publik di situ, dan itu harus benar benar dijaga. Artinya sepanjang ada kaitannya dengan pemberitaan, yang berlaku adalah kebijakan newsroom, tidak boleh ada intervensi dari luar. Baik itu peserta, pemilih, penyelenggara, atau pengawas pemilu,” imbuhnya.

Terkait ada tidaknya pengaduan yang dilayangkan kepada dewan pers terkait awak media tertentu yang dinilai melanggar kode etik, dirinya mengaku sudah ada belasan aduan yang masuk ke dewan pers.

“Mungkin jumlahnya saat ini bertambah, paling banyak pertanyaan dari panwaslu. Jadi misalnya ini kasus pres atau bukan? Segera kita jawab. jika memang media dari media kredibel maka kita cek dari isi, dari adminitrasinya, jika benar berarti ini diproses melalui dewan pers. Tapi jika dari media yang tidak kredibel artinya isinya saja tidak menunjukkan itu bukan pres kita berlakukan prosedur hukum yang lain,” terangnya. (is)

 

 

 

 

21

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan