Hanny Nurmalita, Andalkan Jamu dan Diandalkan Produsen Jamu

SEMARANG (Asatu.id) – Sejak dinobatkan sebagai juara II Duta Jamu Jawa Tengah 2018, kegiatan dan kesibukan Hanny Nurmalita bertambah. Dengan predikat yang disandangnya, mahasiswi semester 8 Ilmu Komunikasi Undip itu tidak bisa jauh dari yang namanya jamu. Beruntung, kedua orang tuanya, Sri Heru dan Hengky selalu memberi dukungan.

“Iya, kegiatanku tidak bisa jauh dari jamu dan produsen jamu. Secara otomatis harus mempromosikan jamu, baik soal manfaatnya maupun cara produksinya. Ini menarik sekaligus penuh tantangan,” katanya di sela acara “Njamu Bareng” yang diadakan Asatu.id, di Hotel Grand Arkenzo Semarang, Senin (30/4).

Hanny, panggilan akrabnya, menyebut tugasnya menarik dan penuh tantangan karena harus menghadapi dan berkomunikasi dengan generasi milenial . Sementara jamu yang dipromosikan adalah warisan leluhur, yang seluk beluknya tidak banyak diketahui generasi sekarang. Orang sering menyebut jamu sebagai barang kuno dan masa lalu. Itu kendalanya.

“Kendala tentu saja ada. Generasi sekarang kan penginnya yang praktis dan instan. Sementara saya harus menyampaikan sebuah barang yang sering disebut warisan nenek moyang, kuno dan rasanya pahit. Tapi justru dari hal ini saya bisa sampaikan bahwa nenek moyang kita hebat, bisa meracik jamu yang tidak kalah khasiatnya dengan obat modern. Bahkan sekarang produk jamu sudah dibuat di pabrik, dikemas praktis dan menarik, dengan harga lebih ekonomis dan rasa yang disesuaikan selera masyarakat,” tutur Hanny, yang juga menyandang predikat Duta Museum dan finalis Denok Kenang 2016.

Meski termasuk generasi milenial, gadis asli Semarang kelahiran 8 April 1996 ini ternyata juga punya pengalaman menarik soal jamu. Ia pernah mengalami yang namanya dicekoki jamu pahit oleh orang tuanya, agar pulih dari penyakit dan selera makannya bertambah.

“Itu jadi pengalaman yang tidak bisa dilupakan, yaitu diberi jamu dengan cara dicekoki. Waktu kecil saya juga sering melihat kebiasaan orang mengonsumsi jamu. Ternyata tujuannya untuk menjaga kesehatan dan mencegah penyakit. Praktis dan ekonomis. Bahkan banyak masyarakat yang meracik sendiri dengan bahan-bahan yang mudah diperoleh,” kata anak pertama dari dua bersaudara itu.

Sebagai Duta Jamu, Hanny berharap gerakan memperkenalkan jamu lebih digencarkan lagi, terutama kepada generasi sekarang. Kalau perlu ke kalangan anak-anak Taman Kanak-kanak (TK) seperti yang pernah dilakukannya bersama komunitas Duta Jamu.

“Generasi milenial perlu dikenalkan jamu dari sisi manfaatnya, bukan sisi zamannya. Tidak perlu mengobati setelah penyakit datang. Cukup mencegah dan menjaga kesehatan dengan minum jamu. Sehat, praktis dan ekonomis,” papar gadis yang kini sibuk di TVRI dan penyiar radio itu. (is)

276

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan