Debat Pilgub, Kedua Cagub Tontonkan Aksi Unik

SEMARANG (Asatu.id) – Walaupun bersaing dalam ajang pilgub 2018, kedua cagub Jateng, Ganjat Pranowo dan Sudirman Said menunjukkan kekerabatan dalam debat publik putaran pertama yang diselenggarakan KPU Jateng.

Kekerabatan itu muncul ketika debat cagub tersebut dimulai. Keduanya sempat saling colek setelah bersalaman di atas panggung. Hal tersebut lantas membuat audien dalam ruangan tertawa.

Masuk di sesi pertanyaan, Sudirman Said mempertanyakan seberapa banyak masyarakat mendapatkan kartu tersebut.

Kalau datanya baik, maka subsidi, pajak, bantuan sosial mampu tersalurkan dengan baik. Pertanyaannya, Jawa Tengah sampai mana?” tanya Sudirman.

Menjawab pertanyaan tersebut, Ganjar mengatakan, pihainya terus melakukan koordinasi dengan banyak pihak. Dirinya juga mengaku mempunyai data terbaru untuk tiap harinya. Dimana akhirnya dari data tersebut bisa diketahui faktor penyebab cepat atau lambatnya proses rekam data dan pembagian e-KTP.

“Bahkan kami memantau itu semua dengan membuat grup whatsapp. Anggotanya, tentunya pihak-pihak yang memiliki kewenangan atas masalah ini,” imbuhnya.

Dia menerangkan, bahwa semua bergantung peralatan, akses listrik, kondisi yang ada, lalu tergantung suplai blangko dari kementrian Kemendagri.

“Ketika masyarakat pingin tahu berapa tercetak, berapa stok yang ada, silakan cek websitenya dukcapil Jawa Tengah,” tukasnya.

Giliran Ganjar bertanya pada Sudirman Said tentang formula membuka lima juta lapangan kerja dalam waktu lima tahun. Dimana menurutnya, ntuk merealisasikan itu maka dibutuhkan pertumbuhan ekonomi 19-20 persen.

Sudirman Said menjelaskan, setiap tahun ada 1,5 juta angkatan kerja baru yang lulus SLTA dan perguruan tinggi. Meskipun ada yang berstatus pekerja, sebagian informal, bahkan setengah menganggur.

“Kalau pakai angka makro tidak akan ketemu, saya kerja mikro, bukan percaya statistik makro, melupakan esensi kemiskinan,” jawab Sudirman Said.

Selain itu Sudirman Said mengatakan penurunan angka kemiskinan menjadi 6 persen bukanlah hal yang bombastis. Dan menurutnya itu mampu dilakukan.

“Angka enam persen bukan bombastis. Di Zamannya pak Bibit, angka kemiskinan berhasil menurunkan 5,7 persen. Kalau kemudian kami menargetkan enam persen bukan mustahil, bukan hal yang sulit,”tulasnya

Mengakhiri debat keduanya pun masih menciptakan suasana yang membuat audien kembali tertawa dengan kedua cagub tersebut tos -tosan.

31

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan