Isu MEA Meredup, Persaingan Baru Dimulai

SEMARANG (Asatu.id) – Kendati sudah tiga tahun diberlakukan, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) masih belum menunjukkan hasil yang siginifikan. Banyak kajian yang menyoroti tentang pemberlakuan kesepakatan MEA di Indonesia, antara lain masalah perdagangan bebas, mobilitas tenaga kerja, sampai  kesiapan pemerintah daerah.

“Sampai sekarang seiring berjalannya MEA, tidak banyak media dan kajian yang membahas hal tersebut, sosialisasi masih terkesan terbatas. Isu MEA meredup, padahal faktanya persaingan baru mulai,” kata inisiator Desk MEA Kota Semarang, Wahyudi Mukti, Juamat (20/4).

Di mengakui, isu-isu penolakan terhadap MEA memang muncul sejak tahun 2015. Suara paling keras datang dari kelompok buruh, yang juga sedang santer dihantam isu pekerja asing ilegal. Dan sejak itu pula telah dilakukan banyak seminar dan penjelasan tentang cara kerja MEA sejak 2015 lalu.

Di sisi lain, emerintah juga menyediakan program sertifikasi guna memenuhi standar internasional dan ASEAN. Fokus pelatihan yakni membina pekerja dari sisi kemampuan, perilaku, dan penguasaan bahasa asing – hanya saja biaya sertifikasi ini masih dianggap tinggi oleh masyarakat kita.

“Yang urgent dalam hal ini adalah penerapan sertifikasi dan kompetensi kerja bagi pekerja Indonesia yang diakui secara nasional dan internasional, kemudian pengendalian tenaga kerja asing (TKA) dan percepatan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKNNI) di semua sector,” paparnya.

Dalam pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), lanjut Wahyu,lemahnya daya saing industri lokal dikhawatirkan akan menggerus potensi daerah. Untuk itu, pelaku UMKM diharapkan mampu bertahan di negeri sendiri dan bersaing di pasar global.

“Program Kampung Tematik sebagai salah satu bagian dari Gerbang Hebat yang dimiliki oleh Kota Semarang, kami diharapkan mampu mengembangkan serta memberdayakan UMKM,” ujarnya.

Dia menhgakui banyak kalangan menilai program Kampung Tematik merupakan langkah strategis untuk memacu daya saing UMKM yang tersebar di berbagai wilayah kelurahan di Kota Semarang.

 

79

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan