Wajah Umar Tampak Nanar Melihat Kiosnya Dibongkar

SEMARANG (Asatu.id) – Wajah Umar (51) tampak sembab, sayu dan nanar melihat beberapa tukang melakukan pembongkaran deretan kios di Jalan Mpu Tantular. Umar adalah salah satu pedagang kaki lima (PKL) pemilik kios di dekat Jembatan Berok itu.

Berkali-kali Umar duduk, lalu berdiri lagi dan tertegun memperlihatkan kegelisahan. Bagaimana tidak? Kios tempat jualan baksonya mulai Selasa (10/4) ini harus dikosongkan karena akan dibongkar Dinas Perdagangan Kota Semarang.

“Hampir 20 tahun saya jualan di sini. Saya ambil lima plong untuk jualan bakso. Ini tempat mencari nafkah keluarga sehari-hari, tapi mulai hari ini saya tidak bisa berjualan lagi. Saya harus memulai lagi di tempat baru yang disediakan pemkot di MAJT. Tidak tahu bagaimana nanti nasib saya di sana. Saya pasrah,” tutur bapak satu anak itu.

Umar memang mengaku pasrah, tetapi raut mukanya menunjukkan ratapan kesedihan. Mungkin karena ia sudah punya banyak pelanggan. Dan yang membuat dirinya lebih sedih lagi, karena atap dan bagian depan kiosnya belum lama diperbaiki. Ia harus merogoh Rp 12 juta dari kantongnya untuk biaya pembangunan dan perbaikan kios itu.

“Baru sekitar 3 bulan deretan kios ini diperbaiki. Itu atas perintah pengurus Persatuan Pedagang Jasa (PPJ). Kalau mau dibongkar, kenapa mesti disuruh memperbaiki? Ibarat ngelas besinya saja belum kering, masih panas. Yang utang bank juga belum lunas. Tapi itulah yang terjadi, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ini program pemerintah, katanya untuk penataan Kota Lama,” kata Umar yang mengaku asal Sragen.

Umar masuk Kota Semarang tahun 1981. Ia mengais rezeki sesuai keahliannya meracik bakso. Setelah malang melintang sebagai pedagang bakso di beberapa tempat, ia terdampar di Jalan Mpu Tantular dan bisa memiliki lima plong kios.

“Rasanya sudah mapan di sini. Tempatnya enak dan strategis, sudah banyak pelanggan. Di tempat yang baru harus berbenah lagi untuk mencari pelanggan baru. Di Pasar MAJT tempatnya juga tidak seluas di sini, per plong lebarnya cuma 2 meter. Kalau di sini kan 3 meter. Juga harus keluar biaya lagi untuk membangun kios baru,” cerita Umar yang bermukim di kawasan Jalan Badak, Pandean Lamper.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *