Soal Puisi Gus Mus, Tim Ganjar-Yasin Laporkan Ketua FUIB

SEMARANG (Asatu.id) – Tim kuasa hukum pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo – Taj Yasin, melaporkan penyebar isu SARA terkait pembacaan puisi milik Gus Mus oleh Ganjar Pranowo.

Anggota tim hukum Ganjar-Yasin, Heri Joko Setyo mengatakan, laporan tersebut dilayangkan ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng, Senin (9/4).

Heri menerangkan ada dua serangan berunsur SARA yang menyerang Calon Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang dilaporkannya. Pertama, laporan tentang penyebaran dan pemviralan undangan peliputan yang dikeluarkan oleh Rahmat Himran, Ketua Umum Forum Umat Islam Bersatu (FUIB).

“Yang pada intinya bermaksud melaporkan Ganjar Pranowo ke Bareskrim Polri, terkait pembacaan puisi yang dilakukan dalam acara Talk Show kandidat Jawa Tengah yang di Kompas TV dalam Program Rosi,” ujarnya di Kantor Ditreskrimsus.

Heri menjelaskan pelapor (Ketua Umum FUIB) menyebutkan bahwa Puisi tersebut sangat menyinggung umat islam dimana terdapat kalimat yang mengandung unsur SARA dan Penistaan Agama.

Namun, Heri melanjutkan puisi itu adalah karya dari Kiai Mustofa Bisri, yang diciptakan 1987. Hak Kekayaan Intelektual atas karya puisi tersebut ada pada Gus Mus yang mencipta puisi.

“Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta menjelaskan makna tersirat dan tersurat secara sepenuhnya yang dapat memahami adalah sang pencipta puisi tersebut bukan siapapun juga, termasuk juga Pelapor (Ketua Umum FUIB),” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan, bahwa Ganjar Pranowo, yang membaca puisi tersebut, diawal sudah menyebutkan bahwa Puisi itu judulnya ‘KAU INI BAGAIMANA ATAU AKU HARUS BAGAIMANA” merupakan karya dari Kyai Mustofa Bisri, utuh tanpa ada perubahan satu kata pun.

Pernyataan Himran yang disebar melalui pesan berantai, menurut Heri merupakan suatu berita  atau informasi yang bohong serta mengandung ujaran kebencian dan ajakan yang mengandung unsur SARA yang dapat menimbulkan permusuhan.

“Hal tersebut berpotensi merusak iklim pilkada Jateng yang damai dan tenteram. Kita melapor agar ada tindakan dari kepolisian menindak pelaku pemecah belah bangsa,” ucapnya.

Fakta hukum kedua adalah fitnah yang melalui youtube yang dilakukan oknum yang mengaku sebagai penegak syariah.

“Orang dalam video itu memaki-maki dan mengeluarkan ujaran kotor yang tidak pantas pada Ganjar Pranowo, ngaku orang penjaringan, jakarta,” tukasnya.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *