Gerakan “Gasebu” Diharapkan Bisa Jadi Contoh Daerah Lain

SEMARANG (Asatu.id) – Calon Gubernur Jawa Tengah, Sudirman Said, mengatakan gerakan saweran sepulur ribu atau disingkat “Gasebu” merupakan bentuk dari demokrasi partisipasi warga untuk menekan mahalnya biaya politik yang tinggi.

“Kita ingin betul-betul mengajak demokrasi sebagai partisipasi warga, karena prihatin betul sampai hari ini banyak kepala daerah ketangkap KPK, dan itu dikarenakan biaya politik tinggi, calon yang masuk ingin kejar jabatan, sehingga kita ingin menerobos itu, biaya politik betul, saya juga bukan orang yang punya uang,” ujarnya, Senin (9/4).

Pria yang akrab disapa Pak Dirman ini optimistis gerakan “Gasebu” ini bisa menjadi inspirasi daerah lain, mengingat politik adalah upaya untuk mengabdi, bukan sekedar jabatan, sehingga cara-cara yang dilakukan pun harus mulia.

Mantan Menteri ESDM tersebut menegaskan bahwa hasil “Gasebo” ini adalah untuk biaya kampanye Pilgub hingga 27 Juni 2018 mendatang. “Intinya, kita ingin mengetuk kesukarelaan warga, hasil dari Gasebu ini dirapikan, dicatat dan dilaporkan ke KPU, dan ini digunakan untuk berbagai keperluan kampanye politik,” imbuhnya.

Sementara, perwakilan jaringan relawan Jateng Zumroni menambahkan, para relawan lain yang tidak bisa hadir juga bisa turut menyukseskan gerakan Gasebu tersebut melalui laman website www.saweranjateng.id.

Adapun gerakan Gasebu tersebut diinisiasi oleh relawan lintas komunitas pendukung Sudirman-Ida. Deklarasi dan saweran lintas komunitas relawan independen bertajuk “Sinergitas Gerak Langkah” tersebut digelar pada Minggu lalu (8/4) di Patra Jasa Convention Hall, Kota Semarang.

“Seluruh jaringan relawan telah  membulatkan tekad, dengan ikhlas, dan sepenuh hati, untuk berjuang, memenangkan Pak Dirman dan Mbak Ida, dalam Pilgub 2018 demi terwujudnya Jateng mukti tanpa korupsi,” tukasnya.

11

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan