Udinus Upayakan Publikasi Jurnal Internasional Bereputasi

SEMARANG (Asatu.id) – Sesuai dengan Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor, Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) ingin berkomitmen untuk memacu para professor dan dosen supaya menulis publikasi internasional di jurnal bereputasi.

Meski sempat menuai pro kontra, kebijakan tersebut terbukti dapat mendorong jumlah publikasi internasional di Indonesia. Demikian pula yang berusaha diwujudkan oleh para dosen di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang berdedikasi menyukseskan kebijakan dari Kemeristekdikti.

“Selain untuk memenuhi kebijakan Kemenristekdikti tersebut, publikasi yang dilakukan juga dapat mengkomunikasikan hasil penelitian pada masyarakat luas. Serta berkontribusi terhadap pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, serta peningkatan daya saing bangsa,” ungkap Heru Agus Santoso,  Ketua Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer (FIK)Jumat (6/4).

Untuk di FIK sendiri, sudah banyak dosen yang men-submit jurnal ke publisher level internasional, namun kendala selalu saja ada. Dalam workshop yang diikuti oleh belasan dosen FIK ini, banyak terjadi tukar pikiran dengan dua orang narasumber yang juga sering menjadi reviewer tersebut.

“Di FIK Udinus, kami sudah memfasilitasi para dosen yang ingin mempublikasikan jurnal milik mereka. Mulai dari pendaftaran, akomodasi, hingga insentif bagi yang telah menulis jurnal. Semua untuk memacu dosen agar lebih bersemangat dalam menulis publikasi khususnya di jurnal internasional,” tambah Heru Agus.

Menghadirkan Djoko Sutarno dari Universitas Bina Nusantara yang juga merupakan asesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), serta Husni Teja  Sukmana dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Djoko Sutarno menyampaikan penerbitan jurnal yang rutin sesuai bulan akan menambah nilai plus tersendiri bagi penulisnya. Selain itu, saling bertukar paper antar perguruan tinggi juga dapat membantu referensi jurnal. Asal harus seimbang supply dan demand-nya. Untuk jurnal internasional, dalam hal ini mengacu pada Scopus, Husni Teja lebih menyoroti untuk  hal-hal lain yang mungkin dapat menjadi penghambat penerimaan jurnal. Di antaranya adalah selain melihat konten, Scopus sering kali mempermasalahkan layout.

“Penataan table, kolom, maupun perpindahan halaman di jurnal harus diperhatikan. Dan jika memungkinkan, perguruan tinggi harus mempunyai professional reader, yang dapat mengawal penulisan maupun penerjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris,” pungkas Husni. (is)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *