Pemkot Semarang Akan Bangun Rusunawa Nelayan di Tambaklorok

SEMARANG (Asatu.id) – Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi mengatakan terkait normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) berdampak pada relokasi hunian 150-an nelayan di kawasan Tambakrejo ke rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Kudu.
“Seiring dengan normalisasi Sungai BKT, masih ada beberapa kendala soal lahan permukiman nelayan dan lahan tambak yang belum terselesaikan,” katanya, Selasa (3/4).

Supriyadi mengungkapkan sebagian nelayan masih menolak karena sebagai mata pencaharian mereka sehari-hari akan sulit bagi mereka melaut jika lokasi Rusunawa Kudu jauh dari laut.

“Ya, kami menyadari mereka tidak mungkin direlokasi ke permukiman yang jauh dari laut. Mereka kan nelayan. Bagaimanapun, Pemerintah Kota Semarang harus segera menyiapkan rusunawa bagi nelayan,” ujarnya.

Dia menambahkan pembangunan selalu memiliki dampak positif dan negatif yang akan dirasakan oleh masyarakat, tetapi bagaimana dampak negatif yang ditimbulkan harus seminimal mungkin.

“Kalau nelayan harus menempati rusunawa yang jauh dari laut, “living cost” yang harus dikeluarkan tentunya lebih besar dan harus diperhitungkan, berbeda jika permukiman mereka dekat dengan laut,” tandasnya.

Namun, lanjut dia, normalisasi Sungai BKT harus berjalan terus sehingga keberadaan warga yang masih menempati bantaran sungai tentu akan menghambat proses pembangunan yang dilakukan.

“Kami berharap nelayan bisa menempati Rusunawa Kudu dulu sementara waktu, sembari menunggu pembangunan rusunawa bagi nelayan yang rencananya akan dibangun di kawasan Tambaklorok, Semarang,” imbuhnya.

Dari Pemkot Semarang, kata dia, harus bisa memfasilitasi dengan membebaskan uang sewa rusunawa setidaknya selama satu tahun bagi nelayan yang menempati Rusunawa Kudu sebelum ada rusunawa nelayan.

31

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan