Konsep Pengendalian Banjir Zaman Dulu Berbeda dengan Sekarang

SEMARANG (Asatu.id) – Ketua Pusat Studi Bencana UPPM Undip, Ir Suseno Darsono MSc Phd, mengatakan, permasalahan banjir di Kota Semarang perlahan tapi pasti sudah bisa dikurangi. Di beberapa wilayah, misalnya Semarang bagian tengah seperti kawasan Banjirkanal Barat dan Banjirkanal Timur, endapan air akibat banjir sudah bisa diatasi. Pembangunan dan penataan drainase dilakukan dengan konsep dan kajian yang serius.

Harus diakui, kata Suseno, Pemkot Semarang dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum sudah banyak melakukan inovasi pengendalian banjir dengan menggandeng para praktisi dan akademisi sebagai upaya serius mengurangi banjir yang sering dikeluhkan masyarakat.

“Kami dari Undip sudah banyak berperan dalam permasalahan pengendalian banjir di Kota Semarang. Beberapa kajian kami buat dan Dinas Pekerjaan Umum merealisasikan secara teknis. Tetapi kedisiplinan dan peran masyarakat diperlukan secara optimal. Misalnya soal membuang sampah yang masih sembarangan. Itu hal kecil tetapi juga menjadi salah satu penyebab banjir karena tersumbatnya saluran,” kata Suseno dalam Dialog Interaktif “Drainase dan Banjir Kota Semarang” yang diselenggarakan Radio Trijaya FM di Hotel Noormans Semarang, Senin (2/4).

Dipaparkan oleh Suseno, konsep pengendalian banjir zaman dulu dengan zaman sekarang sangat berbeda. Kalau zaman dulu, upaya pengendalian banjir dengan cara membuang air secepat-cepatnya ke badan air, misalnya ke sungai dan laut, dan salurannya besar-besar. Jadi pada musim kemarau sudah tidak punya air. Banyak juga sungai yang mati atau nol airnya.

“Tetapi konsep zaman modern sudah tidak begitu lagi. Hal yang harus kita pelajari dan terapkan, bagaimana bisa menahan air itu di tempat turunnya. Misalnya kita tampung di embung atau sumur resapan. Ketika musim kemarau, air itu dikeluarkan dan bisa dimanfaatkan. Maka sungai juga tidak kering,” tuturnya.

Suseno juga menyarakan Pemkot segera membuat embung-embung penahan air di daerah-daerah yang rawan banjir, misalnya di Meteseh atau Mangkang yang dilintasi Kali Bringin. Sebab embung-embung itu mampu menahan air, dan secara perlahan bisa dikeluarkan lagi ketika musim kemarau.

“Embung penahan air itu efektif untuk mengendalikan banjir. Nanti kalau musim kemarau air bisa dikeluarkan dan mengalir lewat sungai. Namanya air pemeliharaan sungai. Jadi sungai-sungai tetap ada airnya, binatang penghuni seperti lele misalnya, tidak mati,” kata Suseno. (is)

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *