Anak Jalanan itu Korban Eksploitasi Ortunya

SEMARANG (Asatu.id) – Direktur Program Setara Semarang, Tsaniatus Solihah mengakui, jumlah anak jalanan (Anjal) di Kota Semarang tidak bisa ditoleransi lagi. Sebagai pihak yang selama ini sering melakukan pendampingan, Setara mengapresiasi langkah Dinas Sosial yang akan melakukan operasi Anjal dengan lebih intensif. Sebab para anak jalanan itu sebenarnya menjadi korban ekaploitasi orangtuanya.

Salah satu tempat yang sering menjadi sarang eksploitasi anak, menurut Tsaniatus Solihah adalah Kampung Brintik yang berada di Kelurahan Randusari. Ia mengungkapkan terdapat puluhan anak di Kampung Brintik yang dipaksa bekerja di jalan raya, misalnya sebagai loper koran di seputar Tugu Muda.

“Praktik eksploitasi di wilayah ini sangat sulit diberantas. Karenanya kami berharap orangtua (Ortu) bisa sadar dengan mengembalikan peran anak-anak dan memberi pengasuhan yang terbaik tanpa kekerasan dan eksploitasi,” kata Tsaniatus Solihah.

Titik rawan anjal di Semarang, lanjutnya, tersebar di beberapa tempat, antara lain di Pleburan, Pasar Johar Lama dan Jalan Pandanaran. Namun, dari sorotan pihak Setara, keberadaan anjal yang sangat banyak di Jalan Pandanaran.

“Anjal di sana terus bermunculan. Orangtua di Kampung Brintik pun pernah kami kumpulkan untuk meningkatkan pemahaman bahaya eksploitasi anak,” tuturnya.

Tsaniatus menegaskan, tujuan pihaknya mengumpulkan semua warga Kampung Brintik salah satunya untuk diberi sosialisasi penegakan Perda Anjal. Sosialisasi pernah dilakukan pada tanggal 29 Maret 2018 lalu.

“Kami mengajak semua elemen masyarakat agar mencegah anak-anak turun di jalanan. Apalagi Dinas Sosial mulai memperketat pemantauan pemberian bantuan,” ungkapnya. (is)

19

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan