Ulama Perempuan Miliki Peran Atasi Persoalan Kebangsaan

SEMARANG (Asatu.id) Ulama perempuan dianggap memiliki peran penting dalam mengatasi persoalan kebangsaan. Perannya perlu dikolaborasikan dengan peran laki-laki.

“Perempuan memiliki potensi keadilan dan identitas ideologi dalam menyelesaikan masalah,” kata Zayadi, Direktur Pendidikan Diniyyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI saat menjadi narasumber kunci halaqah ulama perempuan di Aula I Kampus I UIN Walisongo, Rabu (28/3).

Senada dengan itu, Kepala Pusat Studi Gender dan Anak LP2M, Jauharotul Farida menegaskan ulama perempuan perlu peka terhadap persoalan kebangsaan dan sosial.

“Ulama perempuan perlu menguatkan jaringan untuk memperkuat NKRI sekaligus berpartisipasi menyegarkan moderasi Islam,” ujar Farida.

Ketua Umum TP PKK Kota Semarang, Tia Hendrar Prihadi menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya atas terselenggaranya acara Halaqoh Ulama Perempuan ini.

Acara pertemuan para Ibu Nyai Muda dan para kiai yang peduli gerakan gender ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya.

Apalagi acara ini dipercayakan oleh Kementerian Agama RI digelar di Kota Semarang, tepatnya di Kampus UIN Walisongo dan dilanjutkan di Hotel Aston Inn, Pandanaran Kota Semarang.

“Sudah sepatutnya para Ibu Nyai bergerak dalam mendukung Islam moderat sesuai dengan tema acara ini,” tegas istri Walikota Semarang ini.

Sebab dengan Islam moderat ini, lanjutnya, Negara Kesatuan Republik Indonesia akan tetap kokoh berdiri sebagai negara yang plural, menghargai segala bentuk perbedaan. Apalagi Al-Quran telah menempatkan posisi mulia bagi perempuan dengan adanya Surat An-Nisa’ (yang berarti perempuan).

Rektor UIN Walisongo, Muhibbin menegaskan peran perempuan tidak hanya pada wilayah domestik saja. Maka perempuan perlu dipromosikan, termasuk dengan lahirnya ulama perempua. ini sebagai wadah untuk memberdayakan dan memerankan perempuan sebagai pendidik. (is)

 

 

14

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan