Anggota DPRD Prihatin Angka Anak Putus Sekolah Masih Tinggi

SEMARANG (Asatu.id) – Masih tingginya angka anak putus sekolah, terutama pada tingkat SMA, mendapat tanggapan dari anggota DPRD Kota Semarang, Sugihartono. Persoalan itu, menurut Sugihartono, harus segera mendapat perhatian pemerintah kota. Jika perlu ditelusuri faktor penyebab timbulnya masalah tersebut, kemudian diadakan edukasi dan pendampingan secara khusus.

Anggota Komisi D itu juga mengingatkan, persoalan tingginya angka putus sekolah menjadi tugas besar pemerintah. Selama ini pemerintah sebenarnya juga sudah serius mengurusi persoalan pendidikan. Terbukti, anggaran pendidikan yang disediakan sudah mencapai 20% dari APBD Kota Semarang. Namun masih adanya kemiskinan diyakini menjadi salah satu faktor penyebab munculnya persoalan itu.

“Harus dicari penyebabnya, dan ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Seperti anggota dewan lain, saya juga meyakini ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya persoalan ini, terutama masalah kemiskinan. Maka program pengentasan kemiskinan harus lebih difokuskan,” kata Sugihartono, Rabu (28/3).

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang, kasus anak putus sekolah masih cukup tinggi. Rata-rata anak sekolah di Kota Semarang baru mencapai 10,67 tahun. Berdasarkan data statistik, untuk sekolah dasar (SD) sudah mencapai 100 persen.

Untuk usia sekolah menengah pertama (SM) baru mencapai 96 persen untuk anak laki-laki dan 98 persen untuk anak perempuan. Sementara untuk anak usia sekolah menengah atas (SMA) baru mencapai 75,67 untuk anak laki-laki dan 77,32 persen untuk anak perempuan.

“Tentu faktor orangtua juga tidak lepas dari persoalan itu. Mungkin masih ada orangtua yang kurang peduli dengan pendidikan anaknya. Maka harus ditelusuri penyebab pastinya agar bisa dilakukan langkah-langkah kongkrit untuk mengurangi angka putus sekolah tadi,” tutur Sugihartono.

Politikus dari Partai Demokrat itu juga menjelaskan perlunya pendampingan terhadap keluarga miskin dengan melibatkan stakeholder dan elemenmasyarakat  lain yang ada. Dengan upaya seperti itu, upaya pengentasan kemiskinan di Kota Semarang bisa mencapai hasil yang maksimal. Karena diyakini faktor kemiskinan menjadi penyebab utama masih tingginya angka anak putus sekolah. (is)

 

 

59

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *