Komunitas BrotherFood Gandeng Pegiat Kuliner Tradisional

SEMARANG (Asatu.id) – Aneka makanan tradisional dan kekinian tersaji dalam pameran Brotherfood, di Sri Ratu Pemuda Semarang mulai Selasa (27/3) hingga Minggu (1/4). Diharapkan, dari pertemuan perpaduan antar pengusaha kuliner tersebut dapat melestarikan kuliner lokal yang hampir punah.

Ketua Komunitas Brotherfood Semarang, Firdaus Adinegoro mengungkapkan ada 60 stan, 40 persen di antaranya adalah pegiat kuliner tradisional.

“Kita harap ada proses pembelajaran antar mereka, baik dari segi pengemasan, standarisasi, maupun promosi,” ujarnya, Selasa (27/3).

Menurut Firdaus, makanan tradisional bukanlah makanan kampungan. “Contohnya, bola ubi kopong. Ini kan dari ketela, tapi olahannya serupa dengan tahu bulat. Ini populer di Taiwan, padahal di Indonesia banyak produksi ubi,” terangnya.

Selain itu ada juga loenpia tahu, yang merupakan variasi dari loenpia yang umumnya sudah dikenal. Firdaus mengungkapkan kuliner Semarang cenderung unik, karena perpaduan dari China, Arab, Jawa, dan India.

“Style makanan Semarang itu beda, karenanya dengan festival ini diharapkan muncul jenis makanan baru dari kreativitas pengusaha,” paparnya.

Vika Hapsari, penjual Korean Smooky Snack, mengatakan mencoba memperkenalkan olahan snack tersebut di Semarang.

“Ini baru pertama ada di Semarang. Jika makan snack ini, akan merasakan sensasi dingin di mulut dan keluar asap,” ucapnya. Satu tabung liquid nitrogen, dia harus menyewa seharga Rp 1,6 juta untuk 300 porsi snack. Satu porsi, dijualnya Rp 25.000,” jelas Vika. (is)

 

88

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan