Hadapi MEA, Perawat Dituntut Punya Keahlian Khusus

SEMARANG (Asatu.id) Lulusan sekolah tinggi ilmu keperawatan yang notabennya adalah perawat, harus bisa berkompetensi. Kompetensi tersebut minimal sesuai dengan harapan yang dikehendaki rumah sakit.

“Saya sarankan para lulusan baru ini segera mengambil keahlian. Jangan hanya general atau menjadi perawat biasa, akan tetapi jadilah perawat yang memiliki sertifikasi keahlian, seperti perawat ahli gawat darurat, ICU, cuci darah, kamar bedah dan sebagainya,” kata Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jateng, Dr Edy Wuryanto, saat menghadiri wisuda lulusan program studi Keperawatan Stikes Karya Husada Semarang.

Menurutnya, keahlian khusus yang didukung sertifikasi menjadi salah satu syarat dari sejumlah rumah sakit. Apalagi di tengah era globalisasi seperti dan pemberlakuan masyarakat ekonomi ASEAN (MEA), dimana tenaga terampil asing bisa masuk ke Indonesia. ”Para lulusan yang baru ini, segeralah mengambil keahlian khusus,” jelasnya, baru-baru ini.

Edy menjelaskan, saat ini telah dibuka seluas-luasnya sertifikasi keahlian khusus. Dengan semakin banyak pelatihan yang difasilitasi oleh PPNI, sehingga dapat membekali lulusan baru dalam berkarier nanti.

“Ada 23 sertifikasi keahlian untuk keperawatan yang kita buka. Untuk lulusan baru hanya butuh waktu tiga bulan untuk mendapatkan salah satu sertifikat keahlian yang dikehendaki,” paparnya. (is)

 

 

24

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan