Peringati Hari Air Sedunia, Tambak Rejo Gelar Ritual Banyu Pitu

SEMARANG (Asatu.id) – Sebanyak 12 mahasiswa dari teater BETA UIN Walisongo Semarang telah melakukan prosesi ritual Banyu Pitu, “Ngarak Banyu Numpak Prau”, di Kampung Tambak Rejo RT 5 RW 16 Tanjung Mas, Semarang Utara, Rabu (21/3).

Prosesi yang diawali dengan doa bersama warga Kampung Tambak Rejo ini dipimpin seniman dan budayawan dari Guyub Dewan Kesenian Kota Semarang, Widyo Babahe Leksono.

Ada hal menarik dalam proses ritul Banyu Pitu ini, ketujuh air yang berasal dari sumber mata air di wilayah sekitar dimasukkan ke dalam wadah bambu. Lalu diarak mulai dari depan TPQ Al-Firdaus menyusuri rumah warga, kemudian melewati gapura pintu masuk kampung menuju bantaran Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) dengan menaiki perahu.

Sesampainya di bantaran BKT, rombongan melanjutkan prosesinya dengan menyiramkan ketujuh air tersebut kepada manusia lumpur dan perahu sebagai simbol pembersihan dan pertolongan kelangsungan kehidupan warga Tambak Rejo.

Ritual Banyu Pitu ini telah digagas dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia (22/3) dengan tema “Solusi Air Berbasis Alam”, sekaligus mengangkat tradisi dan kearifan lokal setempat yang dijaga secara turun temurun.

Tokoh masyarakat Kampung Tambak Rejo, Rohmadi mengatakan kegiatan yang sudah berlangsung mulai dari 17 hingga 21 Maret ini diharapkan dapat mempererat silahturahmi dan kerukunan antar warga.

“Tak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih atas dukungannya dari berbagai pihak baik dari mahasiswa, LBH Semarang, Pattiro Semarang,dan kawan-kawan seniman dan budayawan dari Guyub Dekase sehingga dapat terlaksana dengan baik seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir,” ungkapnya.

Selain itu, terkait isu penggusuran warga Tambak Rejo lantaran program Pemerintah yakni normalisasi Banjir Kanal Timur telah membuat warga resah karena harus pindah dan terancam kehilangan mata pencaharian mereka.

“Sementara kami tinggal di sini, mencari nafkah dari laut sebagian besar adalah nelayan. Saat dianjurkan pindah ke rumah susun di daerah Rusunawa Kudu, kami khawatir mata pencaharian kami terganggu karena letaknya yang jauh,” tandasnya.

Menurut Rochmadi, masyarakat tidak menuntut banyak terkait relokasi tersebut. Pihaknya hanya menuntut hak hidupnya demi keadilan dan meminta supaya pemerintah peka terhadap persoalan yang dihadapi oleh warganya. (is)

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *