Penggusuran di Tambakrejo Hilangkan Kearifan Lokal

SEMARANG (Asatu.id) Rencana penggusuran di wilayah Tambakrejo yang dilakukan Pemerintah Kota Semarang berisiko menghilangkan tradisi dan kearifan lokal setempat yang dijaga turun temurun.  Ada berbagai kearifan lokal di Tambakrejo yang tidak dijumpai di daerah lain, seperti ritual Banyupitu.

Riri Megah Safitri, dosen Sosiologi dan Antropologi UIN Walisongo kepada Asatu.id, Rabu (21/3), menyatakan penggusuran ini bisa menjadi perhatian semua orang bahwa masalah kehidupan itu tidak hanya masalah tehnis tapi ada masalah sosial budaya yang tidak dipikirkan oleh pemerintah. “Oke, jika pemerintah memberikan relokasi, tapi belum tentu baik juga untuk warga sini,” ucapnya.

Ia menambahkan, nilai-nilai luhur dan sistem sosial warga Tambakrejo akan hilang seiring dengan penggusuran yang dilakukan.

“Ada nilai-nilai yang kompleks tidak bisa dengan mudah dipindah ke Rusun, terlebih mayoritas pekerjaan warga sini nelayan dan mereka hidup di laut,” tambahnya.

Di sisi lain, lanjutnya, pagelaran seni yang dilakukan oleh warga merupakan kegiatan yang baik, karena banyak warga yang belum mengenal kearifan lokal Tambakrejo.

“Ketika ada kegiatan ini masyarakat Tambakrejo bisa eksis dan menujukan bahwa ada hal lain yang perlu diperhatikan oleh pemerintah seperti nilai sosial, adat istiadat serta kearifan lokal, tak sekedar merelokasi warga,” tegas Riri. (is)

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *