Potensi Ekspor Olahan Kayu Jateng, Besar!

SEMARANG (Asatu.id) – Sekda Jawa Tengah Sri Puryono mengatakan, potensi ekspor Jawa Tengah dari olahan kayu sangat besar. Menurut datanya, potensi tersebut didukung dengan lahan hutan di wilayah Perhutani seluas 647 ribu hektare, dan hutan rakyat sekitar 740 ribu hektare.

Sedangkan kawasan fungsi hutan mencapai lebih dari 34 persen, dengan komoditas jati, mahoni, sono keling, sono kembang, dan rimba lainnya.

“Produksi kayu jati Jateng rata-rata 175.000 meter kubik per tahun. Kayu jati, mahoni, dan kayu rimba lainnya sekitar 80.000 meter kubik. Selain itu hasil hutan nonkayu seperti getah pinus dan damar sekitar 40.000 ton per tahun,” ujarnya, Selasa (20/3).

Sekda menambahkan, menunjuk data BPS Jateng 2017, di mana industri tekstil, kayu, dan barang dari kayu merupakan komoditas yang menopang ekspor Jateng. Pada Desember 2017, nilai ekspor tekstil 237,85 juta dolar AS (dengan pangsa pasar 42,31% terhadap total eskpor kumulatif Januari – Desember 2017), kayu 77,46 juta dolar  AS (16,18%), dan barang dari kayu 57,87 juta dolar AS (10,88% ).

“Bahkan kayu olahan, benang, produk minyak kelapa, furnitur, garmen, dan lain-lain, selama lima tahun terakhir mampu melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional, serta partumbuhan positif volume ekspor,” imbuhnya.

Diharapkan, dengan adanya inovasi Sistem Indonesia Timber Exchange (ITE) E-Commerce atau bursa kayu Indonesia secara online mampu berkontribusi positif bagi ekspor Jawa Tengah.

“Harapannya ke depan, digitalisasi tersebut juga menjadi sebuah proses pengelolaan hutan secara menyeluruh. Dari aspek perencanaan, pengelolaan, pemrosesan, hingga pemasaran hasil hutan termasuk kayu olahannya, beserta monitoring dan evaluasi, semua secara online,” tukasnya. (is)

 

 

25

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan