Dewan Minta Pemkot Cari Solusi Kemacetan Jalan Pandanaran

SEMARANG (Asatu.id) – Kemacetan lalu lintas yang terjadi di Jalan Pandanaran, menjadi sorotan kalangan anggota DPRD Kota Semarang. Kondisi itu juga terjadi di beberapa ruas jalan lain, salah satunya Jalan Pemuda. Perubahan jalan yang dulunya dua arah menjadi satu arah, dinilai menjadi satu di antara penyebab parahnya kemacetan.

Ketua Komisi B Kota Semarang, Agus Riyanto Slamet mengatakan, kemacetan di Jalan Pandanaran salah satu penyebabnya adalah adanya parkir mobil di ruas jalan depan gedung Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang. Hal itu mengakibatkan kemacetan arus kendaraan sejak dari pertigaan Jalan Pandanaran II atau seberang Toko Buku Merbabu.

“Harus segera dicari solusinya. Katanya pemkot akan membangun gedung parkir dengan membongkar dalu gedung Dinas Kesehatan lalu dibangun lagi menjadi 10 lantai. Kami mendorong langkah positif pemkot, karena ini bisa mengurai kemacetan di Jalan Pandanaran,” kata Agus, Senin (19/3).

Gedung 10 lantai itu, nantinya direncanakan akan ditempati Dinas Kesehatan Kota Semarang, Puskesmas dan lima lantai untuk parkir. Pengunjung dan calon pembeli di deretan toko oleh-oleh khas Semarang juga bisa ditampung di tempat parkir itu. Saat ini, depan toko oleh-oleh tidak diperbolehkan untuk tempat parkir. Kendaraan roda empat yang akan parkir harus menuju kompleks museum Mandala Bhakti di kawasan Tugu Muda yang jaraknya lumayan jauh.

“Kasihan pengunjung dari luar kota yang belum tahu. Kalau mau membeli oleh-oleh harus memarkir kendaraannya di museum yang lumayan jauh. Kalau nanti pemkot membangun gedung parkir di gedung Dinkes tentu masyarakat akan senang,” tutur Agus.

Politisi PKS itu juga menyoroti kemacetan arus lalu lintas di Jalan Pemuda yang kini menjadi satu arah. Panjang kemacetan di tempat itu bahkan dari titik traffic Tugumuda sampai Mal Paragon. Padahal, saat jalan tersebut masih dua arah, kemacetan hanya sampai depan DP Mal.

“Salah satu penyebab parahnya kemacetan ya perubahan menjadi sistem satu arah itu. Karena itu kami meminta kebijakan itu dikaji ulang karena bukan menjadi solusi yang baik, justru memperparah kondisi lalu lintas,” katanya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *