DPR RI Berharap Pelaku Usaha Dikenal Mancanegara

SEMARANG (asatu.id) – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) melalui Deputi Akses Permodalan membekali pelaku usaha ekonomi kreatif (ekraf) untuk mengakses alternatif pembiayaan dari sumber non perbankan, yaitu para investor. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah mengatasi permasalahan permodalan dialami startup.

Deputi Akses Non Perbankan Bekraf RI Syaifullah menuturkan, permodalan hingga kini masih menjadi masalah yang menghantui para pelaku ekraf. Lemahnya sistem audit aset dan laporan rutin tiap bulan, dikatakannya sebagai ancaman persoalan.

“Masalah di dalam ekraf, UMKM, atau startup itu adalah intangible assets, jadi mereka sulit membuat laporan keuangan atau memproyeksikan penerimaan. Karena lembaga keuangan formal belum terbiasa dengan hal itu, jadi mereka akan minta aset penjaminan yang tinggi,” ujarnya, Sabtu (17/3).

Belum lagi, suku bunga yang tinggi antara 23 hingga 30 persen. Dan para pelaku ekraf mau tidak mau harus dituntut memperoleh penerimaan di atas 40 sampai 50 persen di awal usaha mereka untuk melunasi pinjaman mereka. “Dan itu hampir mustahil,” sambungnya.

Oleh karenanya, Bekraf akan mempertemukan pelaku ekraf dengan investor selaku pembiayaan dari sumber non perbankan. Pihaknya, lanjut Syaifullah, bakal memfasilitasi dan menjembatani seluruh pelaku startup untuk kemudian bisa diminati usahanya oleh para investor.

“Kita sosialisasi bagaimana melakukan pitching, kita latih bagaimana menciptakan kemasan, brand, dan presentasi. Nanti kita undang investor untuk lihat presentasinya,” katanya lagi.

Setelah terjadi proses penanaman modal, lanjutnya, investor akan merasa bertanggungjawab untuk membimbing pelaku ekraf untuk berkembang.

Dikatakannya, langkah ini merupakan salah satu upaya Bekraf dalam membantu para ekfraf supaya tetap bertahan dalam menjalankan bisnis mereka selain melalui direct financing berupa Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) senilai Rp 200 juta.

“Program lain berupa development brand, izin ke BPOM untuk pelaku ekraf kuliner dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI, Yayuk Basuki, merespon positif apa yang dilakukan oleh Bekraf ini. Menurutnya, langkah ini akan mengangkat para pelaku ekraf daerah ke permukaan untuk pada akhirnya semakin dikenal usahanya.

Mengenai Jawa Tengah sendiri yang menurutnya sebagai sentra ekraf bidang kriya dan batik, Yayuk menuturkan malah banyak dari mereka telah dikenal terlebih dahulu di luar negeri. Maka dari itu, pihaknya nanti juga akan turut andil merumuskan bagaimana masyarakat dalam negeri bisa mengenal mereka.

“Harapannya sudah jelas yaitu supaya memberikan dampak perkembangan ke perekonomian nasional. Sudah ada kemajuan dan semoga dengan kita turun ke daerah-daerah, makin banyak lagi perkembangannya,” pungkas yayuk.

25

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan