BRT Trans Semarang Tambah Empat Koridor Feeder

SEMARANG (Asatu.id) – BLU UPTD Trans Semarang mulai perencanaan untuk empat Koridor Feeder di Tahun 2019. Empat koridor tersebut akan siap beroperasi pada bulan Mei 2019 mendatang, ditambah koridor VIII pada bulan yang sama, Jumat (16/3).

Kepala BLU BRT Trans Semarang Ade Bhakti Irawan berharap hal ini dilakukan sebagai solusi terhadap permintaan warga masyarakat terkait transportasi public dengan desain yang sudah disesuaika.

“Karena kebanyakan perkampungan dan perumahan tidak mempunyai kualitas jalan yang memenuhi syarat untuk dilewati bus Trans Semarang. Oleh karena itu kami desain untuk armada feeder menggunakan armada sekelas ELF Long Chasis,”ujarnya

Ade mengatakan, tiap tahun sesuai data, kenaikan penumpang dapat  dilihat dari kenaikan angka Load Factor. Sebagai contoh Koridor I pada 2016 lalu Load Factor di angka 60,43%, th 2017 di angka 69,91% dan awal 2018 ini sampai dgn tgl 14 kemarin di angka 79,48%.

“Begitu pula dengan koridor lain, koridor II misalnya, 2016 (86,77%) 2017(88,13%). Termasuk 2 Koridor baru yang kita launching 2017 lalu koridor V dan VI. 2017 (V: 57,18% ; VI: 29,02%) awal 2018 (V: 59,72% ; VI: 34,16%),” jelasnya.

Ade menambahkan, data prosentase load factor didapat dari jumlah capaian penumpang dibagi dengan kapasitas total maksimal penumpang yang dapat kita angkut dikalikan 100%.

“Jumlah penumpang total pada 2016 sebanyak 7.725.490 penumpang dan 2017 sebanyak 9.125.472 orang. Dari angka Load Factor dan jumlah penumpang dapat dilihat bahwa BRT Trans Semarang ini semakin diminati oleh warga masyarakat,” ujarnya.

Ade menjelaskan, terkait belum bisanya trans semarang mengurangi kemacetan di kota ini. Perlu dilihat lagi harusnya, bahwa indicator penyebab kemacetan itu banyak sekali. Tentunya tidak bisa dibandingkan secara langsung tentang kemacetan dengan trans semarang.

“Dilihat dari angka-angka diatas, sedikit banyak kami sudah mencoba untuk selalu meningkatkan pelayanan dengan tujuan semakin banyak masyarakat yang beralih ke transportasi umum masal ini,” katanya.

Tentunya, lanjut dia, dengan disertai terus menerus melakukan perbaikan baik dalam pelayanan. Seperti penambahan koridor supaya lebih menjangkau seluruh wilayah kota, penambahan armada supaya headway antar armada tidak terlalu jauh, pembangunan passenger information system, shelter yang nyaman dan lainnya. Semua itu sedang dalam proses kita lakukan.

“Termasuk rencana penambahan jam operasional. Terkait hal tersebut, kami sedang membuat Feasibilty Study untuk mendapatkan potensi pasti tentang bagaimana kota ini di malam hari, apakah masih banyak aktifitas ataukah hanya pada wilayah wilayah tertentu,” ungkapnya.

Karena, lanjut dia, jangan sampai penambahan jam operasional membuat subsidi pemerintah semakin membengkak sementara manfaat yang kita dapat belum bisa maksimal. Kita tunggu hasil FS nanti seperti apa, itu yabg akan kami jadikan pegangan bagaimana nanti.

47

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan