UPGRIS Gelar Pameran Arsitektur dan Budaya

SEMARANG (Asatu.id) Kekayaan warisan budaya Pulau Bali dan Lombok sangat melimpah. Di balik pulau yang indah tersimpan sejarah yang cukup panjang. Banyak cerita yang tersimpan di masyarakat Bali dan Lombok.

Hal ini yang dicoba mahasiswa arsitektur UPGRIS untuk belajar mewarisi budaya leluhur. Pengalaman kuliah kerja lapangan (KKL) menjadi sebuah proses perwujudan pewarisan budaya.

Melihat, mengenal, dan menggali sebuah kebudayaan masyarakat Bali dan Lombok. Dari pengalaman KKL kemudian dibuat miniatur, yang bertempat gedung pusat lantai 5 UPGRIS.

Dhurra, mahasiswa arsitektur UPGRIS, menyampaikan bentuk bangunan di Bali dan Lombok menjadi salah satu objek yang dipelajarinya.

“Proses, bentuk dan manfaat dari sebuah bentuk bangunannya mencerminkan kearifan lokal yang masih. Selain itu, arsitektur di desa Sasak yang masih tradisional. Lombok yang terkenal dengan 1000 masjid dengan arsitektur tradisional dengan ciri bentuk material lokal. Cirinya antara lain lantai masih menggunakan tanah liat dan  atap menggunakan alang-alang,” ujar Dhurra, Kamis (15/3).

M Syndhu Yoga Pratama Ketua pameran menerangkan pameran aristektur ini merupakan produk KKL selain seminar, dan buku.

“Kami bisa melihat bentuk arsitektur, sejarah, terbentuknya sebuah pemukiman yang masih utuh sampai sekarang. Proses pembuatan maket desa agar orang lain bisa melihat langsung dalam bentuk miniatur yang kami tampilkan,” papar Syndhu.

Sementara itu, Ratri Septina Saraswati ST MT, dosen Arsitektur UPGRIS menjelaskan pameran mengapresiasi dan menginspirasi bagi masyarakat luas agar lebih dekat dan mengenal arsitektur yang berakar pada kearifan lokal. Serta, menjadi tolok ukur kekompakan dan kerjasama mahasiswa arsitektur. (is)

 

 

29

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *