Inovasi Salah Satu Kunci Atasi Kemiskinan di Jateng

SEMARANG (asatu.id) – Salah satu kunci dalam pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah adalah dengan memaksimalkan inovasi dari masyarakat. Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Jamaluddin, Kamis (8/3).

Saat reses di Wonosobo beberapa hari lalu, pihaknya menyampaikan bahwa diperlukan beberapa hal diantaranya pembangunan mental mandiri untuk pemuda, inovasi yang kuat dengan ditambah optimistis untuk menatap masa depan.

“Saat ini banyak peluang di daerah dan pemerintah yang bisa di akses untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Yang penting kuncinya adalah inovasi yang kuat di internal kita, yakin dan mantap di hati kita dalam berusaha, bahasa jawanya, sugeh ki rekoso,” ujarnya.

Menurut Jamaluddin, saat ini berdasarkan data statistik, angka kemiskinan di Jateng termasuk tertinggi, yakni sekitar 4,20 juta jiwa dan jumlah pengangguran sebesar 4,57 persen.

“Kondisi tersebut pastinya memerlukan solusi untuk mengatasinya,” tukasnya.

Sebagai informasi, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah menunjukkan, pada Maret 2014 angka kemiskinan di Jawa Tengah sebesar 4,83 juta jiwa. Adapun pada September 2014, angka kemiskinan turun menjadi 13,58 persen atau menjadi 4,56 juta jiwa. Pada Maret 2015, persentase kemiskinan stagnan di angka 13,58 persen. Namun, angka itu kembali turun pada September 2015 menjadi 13,33 persen atau sebesar 4,5 juta jiwa.

Pada Maret 2015, persentase kemiskinan stagnan di angka 13,58 persen. Namun, angka itu kembali turun pada September 2015 menjadi 13,33 persen atau sebesar 4,5 juta jiwa. Persentase kemiskinan juga tercatat turun pada Maret 2016 menjadi 13,27 persen. Angka kemiskinan kembali turun pada September 2016 menjadi 13,19 persen atau menjadi 4,49 juta jiwa.

Pada Maret 2017, angka kemiskinan kembali turun menjadi 13,01 persen atau sebesar 4,45 juta jiwa. Selanjutnya, pada September 2017, jumlah penduduk miskin Jateng mencapai 4,20 juta orang (12,23 persen). Kondisi tersebut berkurang sebesar 253,23 ribu orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2017 yang sebesar 4,45 juta orang (13,01 persen).

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *