Hendi: Peningkatan Kesetaraan Gender Tekan Diskriminasi Perempuan dan Anak

SEMARANG (Asatu.id) – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan Pemkot terus mendukung upaya menekan jumlah diskriminasi terhadap perempuan dan anak.

“Untuk menekan masalahini, Pemkot melakukan sosialisasi guna meningkatkan kesetaraan dan keadilan gender. Antara lain melalui peningkatan kualitas hidup perempuan dan perlindungan perempuan,” kata Walikota Semarang yang akrab disapa Hendi.

Penegasan orang pertama ini disampaikan saat Rapat koordinasi Perencanaan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) Kota Semarang guna membentuk sinergitas pemberdayaan perempuan dalam kesetaraan gender, di Hotel Patrajasa, Semarang, Selasa (6/3).

“Meskipun ada beberapa keterbatasan yang dimiliki perempuan dan anak, yakni adanya kelemahan fisik dibandingkan dengan laki-laki, namun dari sisi intelektual dan kesempatan kerja atau karier perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Jadi tidak boleh dibedakan, saya rasa permasalahan ini sudah selesai,” ujarnya

Hendi menambahkan berdasarkan data  Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, dari populasi wanita yang ada di Indonesia hampir 40% mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kekerasan tidak hanya secara fisik, tapi tidak diberikan kesempatan kerja dalam konteks penindasan terhadap perempuan.

“Ini yang kemudian membuat kami semakin terpacu sehingga di dalam program kerja Hendi dan Ita selama 5 tahun ini kita masukan dalam salah satu prioritas pembangunan yakni adanya sebuah kesetaraan antara perempuan dan laki-laki,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Hendi, kita juga tidak boleh meninggalkan kodrat laki-laki yang tidak bisa melahirkan karena kodrat melahirkan hanya milik perempuan.

“Untuk itu kita harus setara, tidak boleh menjadikan perempuan harus selalu di bawah laki-laki,” pungkasnya.
.
Hendi mengungkapkan, bukti kesetaraan gender ini sudah dimulai pada saat dilantiknya pertama kali Wakil Wali Kota Semarang yang seorang perempuan.

“Saya rasa ini tonggak sejarah pemberdayaan perempuan di kota Semarang. Karena pertama kalinya wakil wali kotanya perempuan,” tandasnya.

Kemudian, lanjut Hendi, diikuti Januari 2017 kita bentuk Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, kemudian membentuk Rumah Duta Revolusi Mental, selain itu juga ada Seruni dan lembaga-lembaga pemberdayaan perempuan yang lain.

“Ini supaya masyarakat mudah melaporkan segala hal tindak kekerasan dan diskriminasi serta intimidasi terhadap perempuan dan anak,” imbuhnya.

Dalam kesempatan ini, Hendi juga berkenan memberikan penyerahan penghargaan Gender Champion Kota Semarang kepada Ketua Seruni Krisseptiana Hendrar Prihadi dan pengusaha budayawan Harjanto Kusuma Halim atas dedikasinya selama ini terhadap kesetaraan dan keadilan gender. (is)

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *