20 Maret Bantaran Sungai BKT Harus Bersih dari Bangunan

SEMARANG (Asatu.id) – Dinas Perdagangan Kota Semarang, memberikan batas waktu kepada para pedagang kaki lima (PKL) Kaligawe dan warga yang menempati bantaran sungai Banjir Kanal Timur (BKT) untuk membongkar kiosnya sendiri maksimal 20 Maret mendatang. Batas waktu itu diberikan sehubungan dengan segera dilanjutkannya proyek normalisasi BKT oleh Balai Besar Wilayah Sungai )BBWS) Pemali Juana.

Para PKL dan warga juga sudah diberitahu jauh-jauh hari soal rencana pembongkaran kios dan lapak PKL serta bangunan permukiman warga yang melanggar itu. Bahkan mereka pernah dikumpulkan oleh Dinas Perdagangan dan diberi sosialisasi di halaman Kelurahan Kaligawe pada tanggal 1 Maret 2018 lalu. Namun sejauh ini para PKL masih melakukan aktivitas jualannya seperti biasa.

“Kami memberi batas waktu sampai 20 Maret. Bantaran sungai harus bersih dari bangunan PKL dan permukiman. Kemudian pada 22 Maret akan kami lakukan pembongkaran jika masih ada kios yang berdiri,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, saat menengok pembongkaran shelter PKL Taman KB, Selasa (6/3).

Sebenarnya untuk lokasi relokasi PKL Kaligawe, Fajar menyediakan lahan di dekat Kantor Kelurahan Kaligawe. Bahkan saat ini, kios pengganti dalam tahap pembangunan dan tinggal finishing saja. Namun para PKL menolak dan memilih pindah ke Pasar Penggaron. Mendengar permintaan PKL, Fajar mempersilakan untuk memilih.

“Pemkot punya banyak pasar. Silakan kalau mau memilih. Didata yang baik, kami akan mengatur,” kata Fajar.

Fajar juga mengingatkan warga yang mendirikan tempat permukiman di bantaran sungai BKT untuk segera membongkar, karena tempat itu juga bagian dari lokasi normalisasi BKT. Pemkot sudah menyediakan rumah susun (Rusun) di Kaligawe.

“Untuk warga yang bertempat tinggal di bantaran, kami sediakan rusun Kaligawe sebagai tempat tinggal pengganti,” jelasnya. (udins)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *