Hendi Terus Fokus Pada Pemerataan Pembangunan

SEMARANG (Asatu.id) – Pemecahan titik keramaian Kota Semarang terus menjadi fokus Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi sejak dilantik memimpin Kota Semarang pada tanggal 17 Februari 2016.

Dalam upayanya tersebut, Wali Kota Semarang yang juga akrab disapa Hendi itu menjalankan pola pemerataan pembangunan yang lebih memprioritaskan pembangunan di wilayah pinggir Kota Semarang. Hal tersebut disampaikannya selepas memimpin rapat Forum Gabungan OPD Pemerintah Kota Semarang, di Balaikota Semarang, Senin (5/3).

Hendi mengatakan sewaktu dilantik menjadi Walikota Semarang, ada sembilan program besar yang dibawa, selain Unit Reaksi Cepat Kesehatan dan Peningkatakan Peran Wanita, sisanya fokus pada pembenahan dan pengembangan kawasan sub pusat kota, seperti pembangunan Taman Kota dengan Wifi, Underpass Jatingaleh, Normalisasi Banjir Kanal Timur, Kampung Wisata Bahari Tambaklorok, Simpang Lima Kedua, Semarang Expo Center, dan LRT.

“Alhamdulillah, hari ini hampir semuanya sudah berjalan, bahkan sebagai sudah rampung, PR besarnya untuk segera dimulai pengerjaannya tinggal tiga, yatu Simpang Lima Kedua, Semarang Expo Center, dan LRT yang hari ini kita diskusikan dengan sedulur-sedulur OPD di pemerintah kota,” lanjutnya.

Namun terkait  LRT ( Light Rail Transit ) / Monorail, Simpang Lima kedua, dan Semarang Expo Center, Hendi meyakinkan bila akan segera dimulai realisasinya sebelum periode masa jabatannya saat ini habis, yaitu di tahun 2021. “LRT sudah masuk kajian, Simpang Lima Kedua tahun ini sudah penyusunan Detail Enginering Design (DED), pembangunan Semarang Expo Center dalam hitungan kami tadi sudah bisa dimulai tahun depan”, tegas Hendi.

Selain itu sebagai bagian dari upaya pembangunan yang lebih fokus dan merata ke semua wilayah, Hendi juga menyampaikan sedang melakukan kajian untuk pemekaran kecamatan yang ada di Kota Semarang. “Kota Semarang ini sebagai sebuah kota jumlah kecamatannya terlalu sedikit, sehingga masing-masing camat jadi mengotrol wilayah yang terlalu luas, ini menjadi perhatian kami”, pungkas Hendi.

“Di kota-kota lain, terkhusus yang merupakan ibu kota provinsi, rata-rata kecamatannya berjumlah 30, dan di Kota Semarang juga seharusnya begitu, mungkin antara 30 sampai 32 Kecamatan,” tambahnya.

Hendi mengharapkan dengan adanya pemekaran kecamatan tersebut, tidak ada wilayah yang terlewatkan pembangunannya, karena masing-masing camat dapat lebih mudah untuk melakukan kontrol wilayah. Dengan begitu dirinya yakin bahwa pemerataan pembangunan dapat lebih mudah diupayakan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *