Habib Lutfi: Sepak Terjang Syekh Kramat Jati Perlu Diteladani

SEMARANG (Asatu.id) – Ulama kharismatik dari Pekalongan, Habib Muhammad Lutfi bin Ali bin Yahya, dikenal dengan Habib Lutfi dalam manaqib gelaran Haul Habib Hasan, Jumat (2/3), menceritakan riwayat hidup Habib Hasan bin Thoha bin Muhammad bin Yahya.

Habib Luthfi menjelaskan sepak terjang dan jiwa sosok Habib Hasan atau Syekh Kramat Jati dalam melawan penjajah perlu diteladani. Perlawanan Habib Hasan yang garang saat pertempuran di Pekalongan pada tahun 1206 H/ 1785 M dan membuahkan kemenangan menjadikan dirinya diberi gelar Singo Barong.

“Strategi tempur, sangat banyak jasanya. Habib Hasan mampu membombardir apa yang dilakukan Deandles dan Raffles (penjajah dari Belanda dan Inggris) sampai ke perbatasan Jateng sehingga beliau mendapatkan gelar Singo Barong. Bagi penduduk pribumi, sangat menyukai Habib Hasan melawan penjajah,” ungkapnya.

Habib Luthfi selaku ahli waris juga sangat ingin mengangkat sejarah Kota Semarang, ingin mengangkat wisata religius untuk menguak kembali mutiara yang sebagian besar sudah dilupakan.

“Para pendiri bangsa ini bekal untuk kehidupan secara nasional. Sangat layak Habib Hasan diangkat. Di Semarang sudah ada Kiai Bustaman, ada Kiai Terboyo, ada Ki Ageng Pandanaran. Maka, dengan adanya wisata religi ini menjadi penyambung lidah pemerintah dan masyarakat. Ini membackingi Pancasila dengan kekuatan agama,” pungkasnya.

Selain itu, Habib Lutfi juga menceritakan kenapa Habib Hasan ini diberi julukan Syekh Kramat Jati, yang konon pada zaman dulu, pada saat Habib Hasan wafat dimakamkan di bawah pohon jati. Tanpa sebab, pohon-pohon jati ini tumbang di sekitar makam. Namun, ketika itu, ada suatu kejadian aneh, yakni datangnya angin besar yang melanda daerah sekitar makam Habib Hasan.

“Kemudian atas seizin Allah SWT, keajaiban terjadi, angin besar itu kembali menegakkan pohon-pohon jati yang sudah tumbang itu, sehingga tetap kokoh berdiri,” katanya.

Kemudian Habib Lutfi berpesan, sebagai generasi penerus harus membangun jati diri bangsa, jangan sampai ada kemerosotan moral dan budaya di Indonesia.

“Kita sebagai bangsa Indonesia jangan sampai terpecah belah dan jangan mudah terprovokasi. Umpama air laut, meskipun dialiri air tawar dari berbagai arah aliran sungai, tak terpengaruh dan masih tetap asin,” tandasnya.

Dalam Haul Habib Hasan ini, juga sempat dinyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pembacaan Teks Pancasila diawal acara oleh ribuan pengunjung yang hadir. Ini merupakan salah satu bentuk seremonial dalam menanamkan sifat budi pekerti yang luhur bagi generasi bangsa. (is)

 

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *