Bela Teman yang Dikeluarkan, Pengurus OSIS SMAN 1 Semarang Buat Petisi

SEMARANG (Asatu.id) – Kasus dikeluarkannya dua siswa SMA Negeri 1 Semarang, AF dan AN akibat beredarnya video ‘kekerasan’ saat pelaksanaan Latihan Kepemimpinan Dasar (LKD), tampaknya akan berlanjut panjang.

AN, mengaku tidak habis pikir, mengapa hal tersebut dipersoalkan. Sebab, hampir semua siswa SMAN 1 yang menjadi pengurus OSIS hampir pernah mengalami hal tersebut dan melakukan hal serupa. Bahkan semua adik kelas atau yunior tidak ada yang memermasalahkan, atau merasa dirugikan.

“Sanksi itu mereka sendiri yang meminta, minta ditampar, sambil menyampaikan argumen. Menampar di sini juga dipastikan tidak sakit karena pelan-pelan. Istilah yunior-senior juga hanya lima hari selama kegiatan LDK. Setelah selesai LDK, semuanya adalah teman dan keluarga SMAN 1 Semarang,” kata AN yang saat ini tidak berangkat sekolah karena dikembalikan ke orang tua oleh pihak sekolah itu.

Wakil Ketua 1 OSIS SMAN 1 Semarang, Andra Atha Akira, mendesak agar pihak kepala sekolah mampu menyelesaikan masalah ini secara bijak. Dia bersama teman-teman pengurus lainnya meminta agar pihak sekolah mengembalikan AN dan AF agar bisa sekolah lagi.

“Apalagi 1 bulan lagi US (Ujian Sekolah), awal April UN (Ujian Nasional), awal Mei SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Masalah ini membuat kami tertekan. Bahasa guru juga seringkali menyakiti kami dengan kata-kata tak layak,” katanya.

Saat ini pihaknya juga membuat petisi bahwa terkait Latihan Kepemimpinan Dasar (LKD) di SMAN 1 Semarang tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Ada dua petisi, pertama, Petisi Pengurus OSIS periode 2016/2017, kedua, Petisi Pengurus OSIS 2017/2018.

“Tidak ada pihak yang dirugikan, bahkan pengurus baru menerima dengan bangga. Setelah masalah ini selesai, kami meminta agar sekolah mengembalikan AN dan AF agar bisa kembali sekolah,” katanya.

Salah satu orang tua siswa pengurus OSIS, Indah, merasa prihatin atas kasus yang mengorbankan dua siswa dikeluarkan tanpa alasan jelas tersebut. Bahkan masalah ini membuat sejumlah orang tua resah.

“Kami sejumlah orang tua siswa pengurus OSIS sepakat akan terus mendukung AN dan AF beserta orang tuanya. Anak-anak kami telah menjadi korban kekerasan psikis. Ini telah menjadi masalah bersama,” katanya.

Sementara orang tua siswa lain, Nugroho, menilai kasus yang terjadi di SMAN 1 Semarang ini mencoreng dunia pendidikan. Ia menilai telah terjadi pelanggaran sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014 atas perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Kedua anak tersebut menjadi korban ketidakadilan, karena hak pendidikannya dirampas. Mereka diminta mengundurkan diri, kemudian diberikan surat pengembalian siswa ke orang tua. Mereka juga mendapat intimidasi dan ancaman kalau tidak mengundurkan diri akan melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian,” katanya. (udins)

 

172

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan